Zulfahmi Yanuar Ketua TPP (tengah) memberikan keterangan pers yang didampingi Dr. Tintin Surtini (kanan) dan Nico Indra Sakti

Jakarta, innews.co.id – Penetapan Tergugat X (Julius Purnawan) sebagai tersangka pada perkara pemalsuan kian terkuak. Dalam jumpa persnya, Tim Pembela Putusan (TPP) pada perkara Kongres VII Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) di Makassar, di bilangan Jakarta Selatan, Kamis (3/12/2020), menyuguhkan perkembangan terakhir kasus pidana yang saat ini tengah berproses di Polda Metro Jaya (PMJ).

“Kami menyampaikan bahwa berdasarkan surat keterangan dari PMJ, perlu disampaikan bahwa pada 19 November 2020, penyidik Ditreskrimum PMJ telah melakukan gelar perkara peningkatan status terlapor Julius Purnawan menjadi tersangka,” kata Zulfahmi Yanuar Ketua TPP.

Langkah selanjutnya, penyidik akan melakukan pemeriksaan ahli hukum organisasi dan mengajukan izin penetapan penyitaan barang bukti di Pengadilan Negeri setempat.

Dr. Syafran Sofyan (tengah) bersama Tagor Simanjuntak (kiri) dan Zulkifli Rassy memberi tanggapan terkait jumpa pers dari TPP

Menanggapi hal tersebut, Dr. Tintin Surtini, PPAT di Jakarta Selatan, mengaku prihatin. “Saya prihatin melihat kondisi saat ini. Makin ruwet. Padahal, seorang PPAT itu sangatlah terhormat di masyarakat. Saya ingatkan, sebagai PPAT kita harus menjaga etika. Jangan lantaran syahwat kekuasaan membutakan semuanya,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Nico Indra Sakti dalam jumpa pers tersebut bahwa yang jadi korban dari kekisruhan ini adalah para PPAT se-Indonesia. “Sebagai orang yang belajar hukum, harusnya kita taat pada hukum. Jalani saja apa yang sudah diputus pengadilan. Kenapa harus ruwet-ruwet bikin ini-itu, tafsirkan ini-itu. Toh, ujungnya ya tetap harus Kongres Luar Biasa (KLB) sebagai solusi dari semua persoalan ini,” tukasnya.

Sementara itu, Dr. Syafran Sofyan menilai, kalau dari awal ada kerinduan untuk berdamai, tidak perlu sampai separah ini. “Kalau sampai JP ditetapkan sebagai terdakwa, apalagi hukuman diatas 5 tahun harus mendekam dibalik jeruji besi, maka karirnya pun bisa amblas. Apa yang sudah dibangun selama ini akan sia-sia,” kata Syafran.

Tagor Simanjuntak Juru Bicara TPP yang juga PPAT di Yogyakarta kembali menegaskan, TPP sejak awal terbuka untuk berdamai. Tapi sayangnya ‘pihak seberang’ terlalu ngotot dan merasa jadi jagoan. “Padahal, mungkin cuma jagoan neon saja. Kalau Tergugat X sudah jadi tersangka ya mau bagaimana lagi ,” ujarnya sembari mengangkat dua bahunya.

“Kami mau berdamai, tapi jangan juga dipermainkan. Harus sungguh-sungguh berdamai dan menjalankan KLB,” tutup Zulkifli Rassy PPAT di Palembang.

Hingga berita ini diturunkan, JP belum memberikan keterangan resmi terkait statusnya di PMJ. (RN)