Dr. H. Joni, SH., MH., Notaris, Pengurus Pusat Ikanot (Ikatan Notaris) Universitas Diponegoro, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Habaring Hurung Sampit Kalimantan Tengah

Oleh : Dr. H. Joni, SH., MH*

FITRI artinya, suci. Atas dasar keyakinan, bukan perasaan – apalagi pikiran. Merayakan Idul Fitri, berarti kembali suci. Terbebas dari segala dosa, bagaikan bayi yang baru lahir. Putih, bersih tanpa noda. Arti fitri juga berbuka. Setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah khususnya puasa, lalu berbuka.

Untuk itu, Idul Fitri ditandai dengan beberapa hal yang bersifat ritual. Pertama, membayar zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan, yang harus dibagikan kepada yang berhak sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri. Ritual kedua adalah bermaaf-maafan, berjabat tangan khususnya dengan handai taulan yang dirasa memiliki kesalahan. Berelaan atau minta rela.

Mengukur Idul Fitri

Atas dasar keyakinan pula, sebagaimana disampaikan oleh para ulama bahwa menakar kesucian Idul Fitri itu esensinya tidaklah pada saat mengakhiri puasa dengan serangkaian ibadah Ramadhan.

Menakar kesucian atau kefitrian Idul Fitri berhubungan erat dengan taqwa, sebagai tujuan ibadah Ramadhan, khususnya shaum atau puasa. Taqwa yang menjadi tujuan puasa dan serangkaian ibadah Ramadhan, menentukan kadar kefitrian seseorang yang berpuasa.

Untuk itu, bukti yang bisa menjadi ukuran adalah – apakah setelah Ramadhan, serangkaian ibadah itu nantinya berlanjut atau tidak. Takaran yang sederhana menunjukkan apakah seseorang yang berpuasa termasuk golongan muttaqin dan berhasil menjadi fitri atau tidak adalah dengan beberapa indikator.

Indikator itu adalah bahwa apakah selama Ramadhan kita telah bersungguh sungguh melaksanakan ibadah Ramadhan. Manakala itu lewat begitu saja, apalagi setelah itu kembali kepada kehidupan hedonisme, nafsi-nafsi (individualis), maka itu pertanda tidak fitri.

Dengan demikian ukuran fitri itu adalah pasca Ramadhan. Hanya kita sendiri yang tahu dan bisa mengukurnya, dan sesungguhnya inilah yang menjadi ukuran, yaitu pasca Ramadhan. Seseorang yang menentukan ibadah di bulan Ramadhan itu berhasil atau tidak.

Perenungan itu, misalnya adalah — apakah puasa yang kita lakukan ada pengaruhnya dalam kehidupan setelah Ramadhan? Apakah, misalnya, kita melanjutkan dengan puasa Senen Kamis, puasa qamariyah atau pertengahan bulan dan atau puasa sunah lainnya. Jika tidak, maka Ramadhan tidak membekas dan menjadi ukuran bahwa kita tidak atau belum fitri.

Perenungan lain, apakah shalat tarawih yang kita laksanakan ada dampaknya Dampak itu adalah bahwa tarawih diganti dengan tahajud yang semakin khusuk. Kalau tidak, berarti ukuran fitrinya masih belum beres. Ketika Ramadhan, kita rajin membaca Al-Qur’an. Apakah bacaan Al-Qur’an yang kita lakukan di bulan Ramadhan membekas dan semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya? Manakala belum, fitri yang kita angankan ukurannya masih rendah.

Ramadhan yang kita jalani telah memberikan pembekalan yang sangat baik bagi kita semua, yaitu pembekalan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah Kalam Ilahi yang diturunkan oleh Allah untuk kita agar kita jadikan sebagai pedoman hidup. Bukan sekedar sebagai bacaan hidup.

Maka berikutnya, tak cukup bagi kita membaca. Al-Qur’an harus kita pahami, kita hayati, dan kita amalkan sebagai petunjuk dalam keseluruhan detail peri kehidupan kita. Tak boleh Al-Qur’an itu, khususnya Surah Ya-sin hanya dibaca ketika keluarga kita meninggal dunia. Al-Qur’an pedoman bagi manusia yang masih hidup. Al-Qur’an juga tak boleh hanya dibuka ketika kita mencari tahu tentang kehidupan akhirat. Al-Qur’an harus ditelaah, ketika kita ingin tahu bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini. Berkaitan dalam aspek-aspek kehidupan ini, kita harus membuka Al-Qur’an.

Soal ekonomi kita harus membuka Al-Qur’an. Soal hukum kita harus berhukum berdasarkan Al-Qur’an. Soal pemerintahan kita harus membuka Al-Qur’an. Soal politik kita harus membuka Al-Qur’an. Soal pendidikan kita harus membuka Al-Qur’an, yang begitu artistik memberikan dasar dasar pendidikan. Soal berkeluarga kita harus membuka Al-Qur’an. Dan seterusnya dalam semua hal. Konkritnya, mulai masuk WC hingga mengurus negara, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk yang sangat jelas dan sempurna.

Renungan Kematian Pasca Ramadhan

Dengan demikian, mengukur kefitrian Idul Fitri itu adalah setelah Ramadhan. Manakala Ramadhan dengan serangkaian ibadah hanya lewat begitu saja, kita harus ingat, para ulama menyatakan dengan mengutip peringatan Muhammad SAW bahwa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga, maka akan sia-sia belaka. Semoga kita tidak termasuk golongan ini.

Pada dimensi lain, di dalam hati orang yang menghayati Ramadhan, pasti terbersit pertanyaan sebagai hasil perenungan, kendatipun sering dikesampingkan, “Ya Allah, apakah kita bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan di tahun yang akan datang?”

Ramadhan, insya Allah, selalu akan datang. Tapi ketika Ramadhan itu datang apakah kita masih hidup? Adalah sesuatu yang semua kita tak tahu. Bahwa soal kematian adalah merupakan keniscayaan hidup. Bukan hanya relevan untuk yang telah berusia lanjut. Bukan hanya untuk yang sekarang sedang sakit. Bukan hanya untuk rakyat yang kesulitan mencari sesuap nasi. Bukan hanya untuk kaum jelata.

Kematian itu adalah keniscayaan untuk semua manusia dari semua kalangan. Untuk para pemuda. Untuk orang yang sekarang dalam kondisi sehat wal afiat. Untuk yang memiliki harta melimpah. Untuk para pejabat. Untuk yang sedang tertawa gembira, juga untuk yang berharap kematian segera tiba.

Kematian bisa datang kapan saja. Usia tidak berbau dan ketika kematian datang tanpa kabar terlebih dulu. Kematian adalah soal ghaib. Tak ada seorangpun tahu kapan kematian akan tiba. Namun kita tetap berharap, untuk dapat berjumpa dengan Ramadhan yang akan datang. Berjumpa tidak sekadar bertemu. Berjumpa artinya bertemu dengan penuh penghayatan, ada hubungan emosional yang tersambung kuat.

Bertemu hanyalah sekadar fisik. Oleh karena itu, kita dengan istiqomah berharap jumpa dengan Ramadhan yang akan datang. Bulan Ramadhan cepat sekali berlalu. Kita merasakan seakan baru kemarin bulan Ramadhan itu datang, tapi kini ia telah pergi.

Kita berharap, ini bukan pertemuan yang terakhir dengan bulan Ramadhan. Kita masih menginginkan berjumpa dengan bulan Ramadhan, yang penuh berkah di masa yang akan datang. Memang kita semua masih mengingingkan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, namun demikian rasanya tak mungkin kita semuanya bisa bertemu lagi. Pasti di antara kita ada yang segera dipanggil oleh Allah, sebelum bulan Ramadhan datang lagi. Mungkin anak kita. Mungkin orangtua kita. Mungkin istri kita. Mungkin suami kita. Mungkin sahabat kita. Bahkan, mungkin diri kita sendiri.

Bukan bermaksud meratap, dengan meratapi kepergian Ramadhan dan meratapi kematian yang pasti datang.Tapi itulah kenyataan, bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hidup ini ternyata tidak lama. Bisa seakan hanya sekejap.

Terpenting dari semuanya, sudahkah sewaktu-waktu kita siap mati mempertanggungjawabkan apa saja yang kita lakukan di dunia ini di hadapan Allah? Sebagaimana disampaikan oleh para ulama, di hadapan Allah secara langsung tak ada yang bisa kita rekayasa dan tak ada yang bisa kita sembunyikan.

Jadi, puasa dan serangkaian ibadah Ramadhan bermaksud mengantarkan kita sampai pada derajat ihsan. Ihsan, sebagaimana disampaikan oleh para ulama yaitu, beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, atau paling tidak merasa dilihat oleh Allah.

Ramadhan telah menjadi momentum untuk memakmurkan masjid. Maka salah satu dari hasil pendidikan Ramadhan adalah tetap makmurnya masjid-masjid kita. Kalau masjid-masjid kita kembali sunyi dan sepi, maka berarti tak ada bekas yang tinggal dalam kehidupan kita ini.

Masjid yang sepi pertanda masyarakat itu hati-hatinya terkunci. Dan bila masjid sepi dan hati terkunci, maka jangan salahkan bila kita menderita kesulitan ekonomi. Bukan karena sumber ekomoni itu yang sedikit, tapi karena hati kita yang keras dan tandus, maka tanah yang subur tiadalah berarti. Kita harus yakin bahwa masyarakat yang memakmurkan masjid niscaya dimakmurkan Allah. Tapi masyarakat yang berani menelantarkan masjid dan menolak Undangan Allah, menolak seruan Allah, maka sudah sepantasnya bila mendapatkan teguran dari Allah.

Oleh karena itu, ukuran kefitrian Idul Fitri terletak pada peningkatan baik kuantitas maupun kualitas ibadah pasca Ramadhan. Setiap orang harusnya berusaha secara terus menerus meningkatkan nilai ibadahnya itu, sebagai pertanda sebagai hamba yang fitri, berhasil dalam memaknai Ramadhan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. ***

* Penulis adalah Notaris, Pengamat Sosial dan Hukum, Dosen STIH Habaring Hurung Sampit Kalimantan Tengah