Dr. H. Joni, SH., MH., Notaris dan Pengurus Ikatan Notaris Undip Pusat

Oleh: Dr. H. Joni, SH., MH*

Terasa ada, tetapi terkatakan tiada. Dua karakter yang bergeser atau bahkan berubah drastis dari tampilan media mainstream belakangan ini.

Pertama, sajian dari media mainstream kini terasa tak obyektif. Dalam arti tidak menyampaikan sajian yang seharusnya disampaikan. Berbagai peristiwa (news) yang seharusnya disampaikan secara gamblang, baik karena urgensi maupun cakupannya, tidak disajikan sebagaimana mestinya.

Kedua, tingkat kepercayaan masyarakat (trust) semakin rendah. Apalagi media cetak yang dinilai banyak kalangan tak praktis di era serba online ini. Posisinya digantikan oleh media sosial (medsos) yang belakangan meningkat begitu pesat, baik dari sisi jumlah pengguna maupun tingkat intensitas komunikasinya. Hal ini merupakan satu kenyataan baru yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sebuah fenomena yang terus berkembang yang juga belum ada referensinya bagaimana ujung dari pergeseran ini. Sebab seluruh dunia mengalami hal yang sama.

Sajian Hoaks

Mainstream (bahasa Inggris), secara harfiah diartikan, main: utama; stream: arus. Jadi maksudnya mengikuti arus. Filosofinya menggambarkan bisa atau ada keharusan untuk mengakomodasikan arus masyarakat yang sedang terjadi.

Dengan demikian, maknanya adalah menyampaikan hal yang sejatinya biasa saja tetapi berdasarkan standar jurnalistik harus disampaikan, sesuai dengan fungsi media yaitu, menyampaikan informasi dan menjalin komunikasi.

Stop sebar hoaks

Adalah Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya ‘Blur’ (2011), yang menggambarkan mengenai kiprah media. Dibandingkannya media mainstream ini dengan media sosial yang mulai muncul dan berkembang sangat pesat dalam beberapa bentuk semisal twitter, whatsapp, facebook, dan sebagainya. Permasalahan yang muncul dan kemudian berkembang mengkhawatirkan adalah muncul dan berkembangnya sajian atau sajikan bohong (hoaks). Sementara konkritnya perangkat hukum masih sulit menjangkau secara tuntas untuk mengatasi permasalahan hoaks ini.

Pada perspektif lain, apakah memang media mainstream itu terbebas dari penyampaian sajian hoaks? Secara normatif demikian. Sistem dan norma yang berlaku menuntut dan mengharuskan media mainstream luput dari sajian hoaks. Sekali lagi, itu normatif. Tetapi, ternyata media mainstream juga tidak terlepas dari hoaks, meski dengan penampilan lebih halus. Setidaknya keharusan untuk menyampaikan sajian dengan kualifikasi standar dalam makna harus disiarkan, tetapi ternyata disembunyikan dengan berbagai pertimbangan, itu menunjukkan hoaks juga.

Hoaks dalam arti bukan menyampaikan sajian bohong, tetapi menyembunyikan sajian yang tidak bohong. Dalam kaitan dengan sajian hoaks, bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial yang tidak diimbangi dengan literasi digital membuat sajian palsu alias hoaks semakin massif beredar.

Berdasarkan data Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (Mafindo), dalam tiga bulan pertama di 2020 yang baru lewat, sudah ditemukan lebih dari 320 konten hoaks, dengan mayoritas bertema politik. Digarisbawahi bahwa hoaks merupakan kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyaru sebagai kebenaran. Kepalsuan tersebut umumnya menggunakan data, foto, dan kutipan orang, sehingga dianggap orang yang membacanya sebagai sebuah kebenaran.

Sajian hoaks biasanya diciptakan oleh orang pintar tapi jahat, dan disebarluaskan oleh orang baik tapi bodoh. Alasan mereka meneruskan sajian bohong ini karena sajian tersebut didapatkan dari orang yang dipercaya, mengira bermanfaat, menyangka benar, dan ingin dianggap jadi yang pertama tahu. Pada sajian hoaks, sebetulnya bisa dikenali lewat konten yang ditampilkan. Agar tidak menjadi korban pembuat sajian hoaks, berikut ciri-ciri yang bisa dikenali.

Secara garis besar, sajian hoaks mendasarkan pada tujuan yang dikemas dalam sajian, dalam bentuk menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan. Sementara dari sisi sumbernya tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi. Bentuk sajiannya bersifat pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah. Biasanya disertai pencatutan nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media mainstream.

Sebagai dasar supaya memperoleh kepercayaan, sajian hoaks memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat. Secara fisik dari tampilannya disajikan dengan judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya. Berikutnya disertai dengan pemberian penjulukan, dan senantiasa disertai permintaan supaya dishare atau diviralkan.

Pada tampilannya menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya. Sementara itu, naskah atau artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.
Penampilan yang harusnya disampaikan oleh media resmi, ber-Badan Hukum resmi, hoaks biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas. Senantiasa disertai dengan manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Sajian Tentang Covid-19

Khusus terkait merebaknya informasi seputar virus korona melalui media sosial (medsos), kiranya perlu dicermati secara bersama oleh berbagai pihak agar tidak terjebak oleh sajian hoaks yang dapat membuat panik masyarakat. Untuk itu, hendaknya hanya merujuk pada satu sumber resmi yaitu, dari pemerintah.

Intinya, bahwa sajian yang perlu didengar itu adalah sajian dari sumber yang dapat dipercaya. Oleh karena sumber ini akan membawa ketenangan bagi masyarakat. Bahwa penggunaan internet pada masa pandemi korona ini meningkat sangat tajam. Hal ini pada sebagian orang malah memanfaatkannya untuk menyebarkan hoaks atau berita bohong. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Apalagi masih banyak diantara kita yang masih belum mampu untuk menentukan kebenaran sebuah sajian. Apalagi ditengah kepanikan seperti saat ini, maka otomatis jika ada informasi yang berhubungan dengan virus korona, maka hal tersebut langsung ditelan mentah-mentah tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Kita berharap, ditengah maraknya sajian hoaks ini, pihak kepolisian bisa terus bekerja secara optimal menelusuri para pelakunya lalu memberikan hukuman kepada meraka agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Akan tetapi, hal ini tentu akan sulit jika mereka melakukannya sendiri. Mengingat para pelaku hoaks ini ibaratnya, mati satu tumbuh seribu.

Untuk itu, perlu upaya bersama yang melibatkan semua komponen masyarakat yang sadar akan bahaya hoaks ini. Bersatu melawannya dengan senantiasa mewaspadai setiap sajian yang masuk pada media komunikasi. ***

* Penulis adalah Notaris dan Pengurus Ikatan Notaris Undip Pusat