Otty Hari Chandra Ubayani, Notaris/PPAT si Ibu Kota, kritisi IPPAT

Jakarta, innews.co.id – Perayaan 33 tahun perkumpulan Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) harusnya menjadi momentum untuk koreksi diri. Perjalanan IPPAT, terutama pasca Kongres VII di Makassar, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi para PPAT.

Penegasan ini disampaikan Notaris/PPAT senior di Ibu Kota Otty Hari Chandra Ubayani saat ditanya soal Milad IPPAT ke-33, yang jatuh pada 24 September 2020 ini. “Harusnya, di usia ke-33, sebuah organisasi sudah matang. Namun disayangkan, lantaran ada pemaksaan kehendak saat kongres dari kelompok tertentu, maka pemulihannya pun menjadi lama. Tapi sudahlah, ini jadi pembelajaran bersama,” kata Otty kepada innews, Jumat (18/9/2020).

Kedepan, lanjut Otty yang juga dikenal sebagai pengusaha ini, hal-hal yang tidak baik jangan diulangi lagi. “Nanti anggota IPPAT akan lebih kritis, apalagi kelompok milenial yang lebih mengedepankan realita daripada iming-iming jabatan,” imbuhnya.

Otty juga mengkritik mereka-mereka yang tidak punya nyali berkata tidak, meski sudah jelas-jelas mau dijerumuskan (oleh teman sendiri). Atau enggan menolak sesuatu yang salah hanya gegara teman. “Kalau teman salah, ya tetap harus dibilang salah. Bukan malah dibenarkan,” tukasnya.

Otty Ubayani berharap IPPAT dijauhi dari kezaliman

Bagi Otty, jangan takut dimusuhi karena menegakkan kebenaran. Apalagi kita punya tanggung jawab pada klien. Kalau tidak bisa tegas, repot juga. Belum lagi tanggung jawab sebagai pejabat publik kepada nusa dan bangsa. “Karakter apa yang mau dibuat di organisasi IPPAT bila dihuni oknum-oknum yang suka memaksakan kehendak? Tentu kita mau diingat karena kebaikan, bukan kearoganan, kezaliman, kecurangan, dan pembohongan publik,” tegasnya.

Dengan gamblang Otty mengatakan, tugas pengurus itu melayani anggota, bukan maunya dilayani saja. Sebagai warga negara kita harus taat pada hukum. Apalagi, orang yang sudah jelas-jelas belajar hukum, jangan malah sengaja dilanggar. “Para PPAT juga harus patuh pada hukum. Jangan mencari pembenaran terhadap sesuatu yang jelas-jelas sudah salah,” cetusnya.

Ditambahkannya, peringatan ulangtahun hanya seremonial saja. Utamanya bagaimana organisasi hadir dan berbuat bagi anggotanya. “Saya belum lihat peran organisasi dalam membela anggota. Malah, ada oknum yang mencari-cari kesalahan anggota. Menyedihkan! Ada juga pengurus yang tersangkut kasus dan masuk bui, bukannya dibantu, malah diminta membuat pernyataan dirinya keluar dari kepengurusan. Yah, saya hanya bisa berdoa terhadap kezaliman ini,” tutur Otty.

Lanjutnya, semoga di usia ke-33 ini, kian dewasa dan makin sadar diri. Sekarang waktunya introspeksi diri. “Ingat, kepengurusan itu umurnya terbatas. Seperti perumpamaan, gajah mati meninggalkan gading. Jangan sampai orang mengingat kita sebagai sosok yang arogan dan zalim. Sering-seringlah bercermin, supaya bisa menyadari kecurangan dan kebusukan yang dilakukan,” pungkasnya. (RN)