Oknum dari salah satu ormas radikal mencopot label gereja di tenda bantuan yang ada di Cianjur, Jawa Barat

Jakarta, innews.co.id – Tindak sekelompok orang yang mencopot label tenda milik Gereja Reformed Injil Indonesia di lokasi pengungsian korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, sangat disesalkan. Ditengah keadaan yang memgenaskan akibat menjadi korban gempa bumi, masih ada saja orang-orang berpikiran picik yang seolah mengharamkan bantuan dari suatu agama. Padahal, sama-sama saudara sebangsa dan se-Tanah Air.

Sekelompok orang yang diduga berasal dari organisasi masyarakat (ormas) radikal tersebut mencopot label GRII yang berada di atas tenda posko bantuan. Label itu bertuliskan ‘Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia’ yang berada di bagian atas tenda.

mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj

Aksi pencopotan label gereja itu terjadi di empat wilayah pengungsian yakni, di desa Cibulakan, Desa Genjot, Desa Telaga, dan Desa Sarampad. Videonya pun viral di media sosial.

Menanggapi hal tersebut mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj berkata, “Itu bersikap belum dewasa. Harus kita bedakan aktivitas kemanusiaan dan sosial dengan kristenisasi”.

Menurutnya, bantuan dari umat agama Nasrani tidak lantas disebut dengan misi Kristenisasi.

Sementara itu, polisi telah meminta klarifikasi kepada pihak yang melakukan tindakan tersebut. Menurut polisi, pencopotan bukan dilakukan oleh warga yang tinggal di posko pengungsian, melainkan oleh organisasi masyarakat (ormas) Garis.

“Yang mencopot itu bukan masyarakat pengungsi. Masyarakat pengungsi menerima apa yang diberikan dari kelompok manapun, agama apapun,” ujar Kapolres Cianjur AKBP Doni Hermawan, Minggu (27/11/2022).

Pada bagian lain, Bupati Cianjur Herman Suherman mengomentari aksi pencopotan itu. Kata dia, hal seperti ini seharusnya tidak dilakukan karena kemungkinan pihak pemberi bantuan tidak punya maksud tertentu selain kemanusiaan.

“Pencopotan itu salah, tapi menonjolkan label juga tidak benar. Kita sama-sama saling mengerti, membantu secara tulus tanpa label di bantuannya. Saya harap ini tidak terulang, dan kita fokus pada penanganan kebencanaan hingga pemulihan nantinya,” tukasnya.

Bantuan dari GRII susah disalurkan kepada warga yang terdampak gempa bumi. Bukan tidak mungkin salah satu penerima bantuan tersebut adalah keluarga dari oknum yang mencopot label tersebut. Jadi, bantuannya mau, tapi hal label gereja saja dicopot. (RN)