Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Hj. Giwo Rubiyanto Wiyogo, M.Pd

Jakarta, innews.co.id – Pendekatan berbasis keluarga serta upaya preventif dan promotif, menjadi hal yang tengah disiapkan oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dalam memasuki era new normal.

Hal ini disampaikan Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Kowani dalam webinar bertajuk ‘Sinergi Gerak Masyarakat Menghadapi Dampak Adaptasi Kebiasaan Baru’ di Jakarta, Selasa (23/6/2020). Acara ini diselenggarakan oleh Kantor Staf Kepresidenan. Tampil sebagai keynote speaker De. Moeldoko Kepala Staf Kepresidenan dan pembicara swlain Giwo Rubianto antara lain, Budi Arie Setiadi (Wamen Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi), Sandiaga Salahuddin Uno (Ketua Umum Relawan Indonesia Bersatu), Lilik Kurniawan (Deputi Pencegahan BNPB), Pepen Nazaruddin (Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos), dan Jalal (Aktivis Keberlanjutan Thamrin School of Climate Change and Sustainability), dengan moderator Juri Ardiantoro (Deputi Informasi dan Komunikasi Publik KSP).

Menuju ‘New Normal’

Giwo mengatakan, “Adaptasi kebiasaan baru adalah sebuah tatanan kebiasaan baru agar manusia tetap sehat, tidak tertular atau menularkan penyakit dan dapat menjalankan fungsi dan peran sebagai makhluk sosial dan produktif dalam keterbatasan yang ada selama belum ditemukan obat dan vaksin Covid-19”.

Mantan Ketua Umum KPAI ini menambahkan, Kowani bekerja berdasarkan kebijakan dan program pemerintah berdasarkan model sosio ekologi dari promosi kesehatan untuk disampaikan kepada masyarakat maupun organisasi yang ada di masyarakat, hingga keluarga yang merupakan terkecil dari masyarakat.

“Dalam hal ini, ibu berperan penting sebagai garda terdepan dalam melakukan pencegahan dan penyiapan tatanan pengelolaan Covid-19 di dalam keluarga, baik pada masa pandemi maupun dalam memasuki adaptasi kebiasaan baru,” ujarnya.

Dalam hal ini, lanjut Giwo, Kowani memfasilitasi kesiapan masyarakat dengan mengubah perilaku untuk dapat menjalankan aktivitas normal, seperti menjalani tatanan kehidupan baru secara produktif dan aman, hidup sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan perilaku pencegahan, senantiasa mengikuti protokol kesehatan di setiap tempat, dan terus melakukan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak secara optimal dengan melakukan pendidikan dari rumah.

Harus diakui, pandemi Covid-19, telah memberikan berbagai dampak di antaranya tekanan ekonomi rumah tangga, terutama bagi pekerja harian, serta pembiasaan perilaku hidup bersih sehat yang memerlukan kepatuhan akan protokol kesehatan bagi seluruh anggota keluarga di tempat fasilitas umum. Kesehatan keluarga perlu didukung peran aktif seluruh anggota keluarga.

“Seseorang yang menerapkan pola hidup sehat kemungkinan besar berasal dari keluarga yang menerapkan pola serupa. Meski semua berperan penting untuk membangun kesehatan keluarga, namun faktanya ibu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas kesehatan keluarga termasuk dalam memperkokoh ketahanan mental keluarga,” seru Giwo.

Diterangkan, sejumlah upaya dilakukan Kowani dalam penanggulangan Covid-19, yakni mendukung kebijakan, regulasi dan program pemerintah dengan penguatan jalinan keluarga, pembentukan Panitia Solidaritas Bencana Nasional (PSBN) non alam, melakukan dialog bersama di masyarakat berbasis komunikasi digital, dan membangun langkah pemulihan bersama dengan melakukan pengendalian hidup sehat dan penguatan ekonomi keluarga.

Selanjutnya, kata Giwo, menjadi agen perubahan dalam melakukan aksi, hasil akhir yang diharapkan adalah mampu menjalankan dan mengembangkan berbagai indikator sosial keluarga di masyarakat dalam memasuki adaptasi kebiasaan baru.

“Kowani siap bersinergi dalam mengatasi dampak adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan berbagai kegiatan dan kemitraan dengan berbagai pihak,” imbuh Giwo.

Dalam kesempatan itu, Giwo meminta agar para ibu untuk dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru dan menjadi penopang keluarga yang tangguh dan cerdas, karena ibu berperan penting dalam masa depan keluarga bahkan bangsa.

“Dengan adanya ketahanan keluarga, berbagai persoalan dan tantangan dapat dihadapi. Perempuan cerdas dapat menjadi agen perubahan,” pungkasnya. (RN)