Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati membuka Pembekalan Tenaga Pendamping KUR yang disertai penyematan tanda pelatihan dan penyaluran KUR. Makassar, Selasa (24/04/2018). Turut hadir dalam acara tersebut Asdep Asuransi, Penjaminan dan Pasar Modal Kemenkop dan UKM Willem H Pasaribu dan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan Abdul Malik Faisal.

Makassar, innews.co.id – Manfaat Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara umum telah dirasakan sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), khususnya di Kota Makassar.

Maimuddin (32 tahun), pelaku UKM di bidang produksi makanan ringan khas Makassar dengan label Dua Phinisi mengaku, telah menjalankan usahanya sejak 2012. Ia mendapat KUR dari BNI sebesar Rp400 juta. “Akan saya pergunakan sebagai tambahan modal kerja,” tandas Maimuddin.

Hal itu disampaikannya di sela-sela acara Pembekalan Tenaga Pendamping KUR di Kota Makassar, Selasa malam (24/4).

Serupa dengan Maimuddin, pelaku UKM lainnya Hendrawan (32) mengaku mendapat KUR sebesar Rp500 juta dari Bank BRI. Usahanya bergerak di bidang pengadaan dan penyalur beras dan telur dengan nama Toko Hijrah. Usahanya yang telah berlangsung 10 tahun ini kini memiliki pasar yang lebih luas.

Demikian juga dengan Fatmawati (35), pelaku UKM asal Makassar yang mendapat KUR sebesar Rp200 juta dari Bank Mandiri untuk usahanya di sektor industri roti, seperti Roti Kaya, Roti Abon, dan Roti Pisang, yang sudah dirintis sejak 2012. Dia mengaku sangat terbantu dengan program KUR. “Bunga KUR 7 persen sangat murah, sehingga saya berani untuk mengambilnya. Cara dan prosedur mendapatkan KUR juga sangat mudah dan tidak mengalami kendala apa pun,” tandas Fatmawati.

Pembekalan tersebut dihadiri Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati dan 133 orang tenaga pendamping KUR dari 10 provinsi (Yogyakarta, Kalimantan Utara, Sulut, Sulsel, Sulteng, Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Papua).

Makin besar

Dalam sambutannya, Yuana Sutyowati menegaskan, “Dengan adanya program pendampingan, ditargetkan sebanyak 15 ribu usaha mikro pada tahun ini dapat mengakses pembiayaan KUR dengan mudah. Target tersebut lebih besar dari realisasi tahun sebelumnya dimana hanya 14 ribu usaha mikro yang mendapatkan fasilitas KUR.”

Dikatakannya, pihaknya tidak hanya merekrut, tetapi juga memberikan pembekalan kepada para pendamping untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang KUR, sehingga mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik dan efektif.

Tahun ini, Pemerintah menargetkan alokasi penyaluran KUR sebesar Rp120 triliun, lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp110 triliun. Pemerintah mempunyai strategi untuk mempercepat penyerapan KUR, yakni dengan menurunkan suku bunga dari 9 persen menjadi 7 persen pertahun. Selain itu, upaya lain yang dilakukan adalah dengan melakukan penambahan Bank Penyalur KUR, mengikutsertakan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) sebagai penyalur KUR, dan mengikutsertakan koperasi sebagai penyalur KUR. “Dengan semakin banyaknya channel penyalur KUR diharapkan realisasi penyalurannya dapat lebih mudah dan cepat,” tukas Yuana.

Total realisasi KUR tahun 2017 senilai Rp96,7 triliun kepada 4.086.971 debitur. Sedangkan realisasi penyaluran KUR tahun ini hingga akhir Maret 2018 sebesar Rp31 triliun kepada 1,2 juta debitur, dengan rincian KUR Mikro sebesar Rp19,9 triliun, KUR ritel sebesar Rp11 triliun dan KUR TKI sebesar Rp66 miliar.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Koperasi Sulawesi Selatan H Abdul Malik Faisal menjelaskan penyaluran KUR di Sulsel pada 2017 sebesar Rp5,07 triliun atau mencapai 98,8% dari rencana bisnis bank, dengan jumlah debitur 207.861 UMKM. Sulsel juga termasuk salah satu provinsi yang menyalurkan KUR terbesar di Indonesia. “Sementara dari program Pendampingan KUR di Sulsel telah tersalur kurang lebih sebesar Rp22,3 miliar dengan jumlah pendamping sebanyak 22 orang yang mendampingi 1.030 usaha mikro dan kecil”, jelas Abdul Faisal.

Untuk 2018, lanjut Faisal, target KUR di Sulsel sebesar Rp5,3 triliun. Hingga Maret 2018, telah tersalur kurang lebih sebesar Rp1,6 triliun dengan jumlah debitur 69.364 orang dan NPL 0,03%. (RN)