Prodi Magister Pendidikan Agama Kristen-PPS dan Prodi Pendidikan Agama Kristen-FKIP UKI, kembali melaksanakan Pelatihan Penyusunan Program Pembelajaran Remaja Berbasis Teknologi Digital di Gereja HKBP Resort Jatisampurna, Bekasi, secara virtual, Sabtu (29/5/2021) lalu

Jakarta, innews.co.id – Upaya merangkul kaum remaja melalui digital terus digalakkan. Prodi Magister Pendidikan Agama Kristen-PPS dan Prodi Pendidikan Agama Kristen-FKIP UKI, kembali melaksanakan Pelatihan Penyusunan Program Pembelajaran Remaja Berbasis Teknologi Digital di Gereja HKBP Ressort Jatisampurna, Bekasi, secara virtual, Sabtu (29/5/2021) lalu.

Dalam paparannya, Dr. Djoys Anneke Rantung Kaprodi Magister PAK UKI mengatakan, saat dunia dilanda pandemi Covid-19, terjadi perubahan dalam pembelajaran dari tatap muka ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online dengan penggunaan perangkat digital secara mobile.

Sejatinya, kata Djoys, PJJ sudah muncul jauh sebelumnya. “Diawali sekitar tahun 1980 sampai sekarang dengan beberapa tahapan atau generasi. Saat ini adalah generasi keenam, pendidikan secara mobile yang mendukung proses PJJ,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, pembelajaran berbasis digital memang memiliki kelebihan, di antaranya adalah dapat dilakukan kapan saja selama tersedia fasilitas pendukung, seperti handphone, laptop, dan internet. Selain itu juga, lebih cepat, ringkas, serta bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Saat ini dengan mudah kita mendapatkan sumber informasi tanpa batas. Namun demikian, ada juga kekurangannya. Kalau perangkat pendukung tidak ada, pembelajaran tidak bisa dilakukan, halangan jaringan, sehingga proses pembelajaran menjadi terganggu dan tidak maksimal,” jelas Dr. Djoys lagi.

Dia menambahkan, peran orangtua sangat dibutuhkan dalam mendukung PJJ ini, termasuk dalam penggunaan perangkat digital. “Orangtua dapat mengajarkan anak sekaligus membangun keseimbangan dalam penggunaannya, antara dunia maya dengan dunia nyata. Sebab itu, orangtua juga dituntut untuk memiliki kemampuan dan pengetahuan terkait perangkat digital,” imbuhnya.

Di sesi kedua pelatihan ini, materi disampaikan oleh Wellem Saiworna, MTh., yang mengajak peserta untuk praktik langsung menentukan media yang murah, friendly, dan memiliki interaksi dua arah, yang dapat digunakan oleh para pendamping remaja di gereja.

Sebelumnya, Wellem mengungkapkan, ada 7 pembelajaran digital yang tersedia dan sederhana  lewat fasilitas google meet atau zoom. Namun menurutnya, fasilitas lain yang tidak kalah menarik yaitu google class room, dan google form yang bisa mendapatkan feedback dari mereka yang ikut bergabung, termasuk angket, masukan dan usulan.

“Ini bisa dilakukan misalnya dalam pertemuan remaja gereja yang membutuhkan respon agar diketahui oleh para pendamping remaja,” jelasnya.

Antusiasme untuk mengikuti kegiatan praktik langsung sekitar dua jam ini, cukup tinggi. Tidak sedikit peserta yang melontarkan pertanyaan, agar mereka betul-betul mendapatkan pengetahuan yang sangat dibutuhkan terkait fasilitas perangkat digital ini, dalam rangka meningkatkan pelayanannya kepada para remaja gereja. (RN)