Surabaya, innews.co.id – Pelindo III menggelar International Maritime Leadership Seminar di kantor pusatnya di Surabaya, Kamis (30/8). Seminar tersebut menghadirkan pembicara dari pakar maritim dan logistik asal Belanda, STC International, yakni Capt. Albert Bos dan A. A. Hofman, akademisi dari STIAMAK Barunawati Ismi Rajiani, serta Commercial and Operational Director Pelindo III, Mohammad Iqbal.

Operational Director Pelindo III, Mohammad Iqbal menjelaskan, “Kini Pelindo III sedang bertransformasi dengan slogan Beyond Port of Indonesia, yang artinya mengembangkan berbagai layanan untuk menjadi solusi terbaik bagi kebutuhan logistik di Indonesia.

Lebih jauh Capt. Bos menerangkan bahwa basis dari kegiatan tersebut ialah kesepakatan antara Pemerintah Belanda dan Indonesia pada 2016 terkait pengembangan maritim dan pelabuhan. “Kerja sama tersebut disepakati saat Presiden Jokowi berkunjung ke Belanda, dan edukasi menjadi poin penting dalam kerja sama tersebut untuk memastikan semua pihak siap untuk (tantangan maritim) masa depan dengan menyiapkan calon-calon pemimpin dunia maritim Indonesia,” ungkapnya.

Capt. Bos juga menjelaskan, bahwa pemimpin masa depan harus fleksibel, inovatif, dan siap untuk berkompetisi dengan terminal-terminal lain di dunia. Ketiga hal tersebut yang diharapkan pada figur pemimpin baru.

Mohammad Iqbal membenarkan hal tersebut, ia juga memberikan contoh bagaimana Pelindo III yang mengelola STIAMAK Barunawati untuk berperan menjadi laboratorium inovasi-inovasi di bidang kepelabuhanan.

“Untuk menghadapi tantangan bisnis, terutama sektor maritim yang melibatkan banyak pihak, untuk menjadi pemimpin, kita harus menjadi pemimpin untuk diri kita sendiri terlebih dahulu. Semakin produktif kita membawa diri, semakin besar manfaat yang kita berikan pada komunitas kita,” pesannya.

Pada kesempatan itu, A. A. Hofman mempresentasikan pengembangan Pelabuhan Rotterdam di Belanda sebagai contoh pengembangan pelabuhan sebagai pemimpin dalam pengembangan kawasan, termasuk kota.

Ia menjelaskan, awalnya di era 1960an pelabuhan hanya berfungsi sebagai tempat bongkar muat barang. Lalu pada 1980an menjadi pelabuhan yang mendukung sektor industri. Selanjutnya berkembang menjadi bagian penting dalam rantai pasok logistik.

“Di masa depan pelabuhan harus berkembang menjadi smart port yang terintegrasi dengan pengembangan kota untuk menjadi smart city. Pengembangan smart port bisa dimulai segera oleh pelabuhan-pelabuhan yang menjadi hub-port (pelabuhan penghubung) bagi banyak wilayah,” kata Hofman. (RN)