Depok, innews.co.id – Proses pemilihan pimpinan Pengurus Wilayah (Pengwil) Ikatan Notaris Indonesia (INI) Jawa Barat yang diadakan di Hotel The Margo, Depok, Jawa Barat, Selasa (3/9/2019) sore berlangsung sengit.

Menjadi persoalan adalah proses pemilihan, apakah memakai sistem manual atau e-voting. Para pendukung e-vote, terdengar berteriak-teriak lantang “e-votee-vote..”. Sementara pihak lain mempertanyakan pemilihan sistem e-vote sejauh ini masih diberlakukan di kongres.

Menanggapi persoalan ini, Wiratmoko Ketua Hubungan Masyarakat Pengurus Pusat (PP) INI yang hadir di lokasi menjelaskan, sebenarnya sistem e-vote memang baru diberlakukan di kongres. “Kalaupun mau dipakai di konferwil, harusnya dilakukan sosialisasi ke pengda-pengda minimal 3 bulan sebelum konferwil,” ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan saat sistem e-voting dipakai di Kongres INI Makassar, di mana panitia dan pengurus memsosialisasikan sistem ini 6 bulan sebelum pemilihan.

“Waktu itu, sudah disosialisasikan saja masih dipertanyakan oleh anggota,” tutur Wiratmoko.

Lanjut Wiratmoko mengatakan, bila memang dipaksakan, maka hasil konferwil berpotensi digugat karena dianggap menyalahi aturan yang ada.

Konon kabarnya, panitia sudah melakukan sosialisasi ke pengda-pengda. Hanya saja, faktanya, masih ada pihak-pihak yang mempertanyakan proses pemilihan dengan e-voting.

Saat skors sidang dibuka kembali, Presidium memutuskan tetap melaksanakan pemilihan dengan sistem e-voting. Ditegaskan bahwa vendor pelaksana e-voting siap diperkarakan bila memang ditemui adanya kecurangan atau kebocoran data. (RN)