Catur Susanto, Kepala Bagian Rencana dan Program Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Oleh : Catur Susanto*

PEMBERLAKUAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), khususnya untuk Pulau Jawa dan Bali sampai dengan 16 Agustus 2021 dan akselerasi program vaksinasi diharapkan mampu mengendalikan tingkat kasus terpapar Covid-19 hingga mencapai target di bawah 10.000 kasus per hari. Namun demikian, sejak 3 Juli – 9 Agustus 2021 berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 jumlah kasus baru dan jumlah positif Covid-19 secara nasional masih fluktuatif dan masih di atas angka pra-PPKM.

Per 8 Agustus 2021, terkonfirmasi jumlah kasus baru sebanyak 26.415 kasus. Nilai ini relatif menurun jika dibanding pertengahan Juli 2021, yang mencapai 50 ribu jumlah kasus aktif per harinya dan menunjukkan tren membaik. Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi pertimbangan pemerintah untuk melakukan pembukaan secara bertahap lebih luas lagi, menyesuaikan dengan daerah/provinsi/D.I./Kab./Kota yang terus menunjukkan penurunan jumlah kasus.

Lebih lanjut, implikasi PPKM Lanjutan berpengaruh terhadap menurunnya mobilitas masyarakat. Berdasarkan data Google Mobility Index, pergerakan ke tempat transportasi publik rerata turun menjadi 39%. Mobilitas masyarakat ke tempat kerja juga lebih rendah 28% dari kondisi normal. Pergerakan masyarakat ke taman, pantai, dan ruang terbuka publik lainnya lebih rendah 11% dari kondisi normal. Kemudian, mobilitas masyarakat ke restoran, kafe, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata turun 13% dibandingkan kondisi normal. Walau demikian, mobilitas masyarakat ke pasar, supermarket, dan apotek mengalami kenaikan 19% dari kondisi normal. Tren serupa terjadi di daerah residensial atau perumahan, yaitu sebesar 11%.

Perkembangan ekonomi nasional sudah menunjukkan perbaikan. Ekonomi Indonesia triwulan II-2021 tumbuh 7,07 persen (y-to-y) serta tumbuh sebesar 3,31 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makan minum tumbuh paling tinggi, masing-masing 25,10% dan 21,58%. Hal ini disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang mulai tinggi pada triwulan II-2021. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,93% triwulan II-2021 (y-on-y). Penguatan terjadi pada konsumsi makanan, minuman, dan tembakau; sandang; suku cadang dan aksesoris; bahan bakar kendaraan; serta barang lainnya. Artinya, kinerja UMKM kembali bergairah karena mayoritas UMKM bergerak di sektor tersebut.

Kebijakan pemerintah yang telah digulirkan berkontribusi melalui program Banpres Produktif Usaha Mikro yang telah disalurkan kepada 11,84 juta usaha mikro dengan nilai Rp 14,2 triliun direncanakan dapat mencapai target 12,8 juta usaha mikro di bulan September. Program KUR yang telah disalurkan kepada 3,98 juta UMKM, dengan nilai sebesar Rp147,3 triliun atau 58,09% dari target sebesar Rp 253,64 triliun. (per 3 Agustus 2021).

Pemerintah juga terus mendorong agar program alokasi 40% belanja produk UMKM oleh Kementerian/Lembaga lebih optimal. Saat ini realisasi mencapai Rp 306,64 triliun atau sebesar 27,44% dari total belanja barang dan jasa sebesar Rp 1.117,4 triliun. UKM onboarding pada LPSE mencapai 173.265 unit, dan UKM onboarding dalam bela pengadaan sebesar 133.089 unit.

Tak kalah penting, pelaku UMKM harus bertransformasi ke digital. Digitalisasi mampu meningkatkan inklusi keuangan, transaksi melalui virtual account dan e-wallet banyak dipilih dalam e-commerce. Survei LPEM FEB UI dan Tokopedia menyebutkan 7 dari 10 pelaku usaha mengalami peningkatan volume penjualan. Pertumbuhan nilai transaksi produk kesehatan mencapai 154%, makanan minuman 106%, dan elektronik mencapai 24%. Membangun ekosistem transformasi UMKM masa depan dalam menjawab tantangan permasalahan fundamental, meliputi: solusi pembiayaan, pendampingan, inovasi produk, akses pasar ekspor, rantai pasok, dan konsolidasi logistik, untuk menyiapkan UKM masa depan.

Untuk itu, kita tidak boleh lengah,karena dampak dari Covid-19, khususnya varian yang terus bermutasi masih di depan kita. Karenanya, upaya dan langkah sinergi kolaborasi dan gotong royong memberdayakan dan mengembangkan UMKM merupakan suatu keniscayaan.

* Penulis adalah Kabag Perencanaan Kinerja dan Penganggaran Kementerian Koperasi dan UKM