Renita Mindau Agyna Girsang, BA., SH., Pimpinan Kantor Advokat Yan Apul & Rekan

Jakarta, innews.co.id – Perempuan dikaruniai Tuhan kemampuan yang luar biasa. Bahkan, kaum perempuan kerap disebut makhluk multitasking, lantaran mampu berpikir dan melakukan banyak hal dalam waktu yang hampir bersamaan. Tidak hanya itu, perempuan umumnya detail dalam berpikir, lebih sering didahului dengan perencanaan dan sanggup memikirkan akibat dari segala tindakan.

Hal ini secara lugas disampaikan Renita Mindau Agyna Girsang, BA., SH., Pimpinan Kantor Advokat Yan Apul & Rekan. Bukan lantaran dirinya perempuan, namun begitulah faktanya.

Dalam pandangannya, perempuan Indonesia banyak yang hebat-hebat. Sukses dalam karir, pun berhasil membina keluarga. Bahkan, jadi pemimpin yang diperhitungkan di level global.

“Sayangnya, ada kelemahan perempuan Indonesia yang begitu kentara. Salah satunya, malu menceritakan isi pikiran, pendapat, pengalaman, bahkan kejadian malang yang menimpa dirinya,” ungkapnya kepada innews, Kamis (24/9/2020).

Renita Girsang saat bersidang

Keengganan bercerita lebih karena malu nantinya akan dihakimi atau diberi cap tertentu, bahkan dijauhi oleh lingkungan atau keluarga. “Padahal tidaklah demikian. Kaum perempuan harus bisa mengeluarkan isi kepalanya, ide dan gagasan, serta berani mengkritisi hal-hal yang mungkin kurang pas,” ujar wanita cantik peraih penghargaan Indonesia Women Achiever Awards 2020 dari National Award Foundation ini.

Ketakutan banyak perempuan ini pula mungkin yang membuat aksi kekerasan/pelecehan terhadap Kaum Hawa jadi meninggi di Indonesia. “Jika memang terjadi kekerasan atau perbuatan tak senonoh harus berani mengungkapnya. Jangan malah didiamkan. Semakin banyak perempuan yang diam bila mengalami kekerasan/pelecehan, maka tindakan tersebut akan kian marak,” tukas Advokat dan Kurator ini bernas.

Putri pengacara kondang Yan Apul Girsang (Alm) ini memastikan bahwa regulasi di negara ini cukup memberi perlindungan kepada kaum perempuan. Dia pun mendukung agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) segera disahkan, sehingga memberi kepastian hukum kepada para kaum perempuan.

Tidak itu saja, Renita juga berharap penegakan hukum lebih tinggi, tegak, dan keras dalam melindungi perempuan. “Jangan langsung berprasangka buruk, tapi didalami lebih dahulu duduk masalahnya. Karena ada kasus-kasus tertentu dimana perempuan yang disalahkan dan dianggap menggoda pria terlebih dahulu, misal dari cara berpakaian. Padahal cara berpakaian bukan melulu menjadi faktor pemicu kekerasan/pelecehan. Kaum Adam pun perlu juga menjaga sikap dan harus tahu batas-batasnya,” urai ibu dari 3 anak ini.

Kepada perempuan Indonesia, Renita berpesan agar mandiri dan tidak bergantung pada pria. “Perempuan harus mempunyai dan dibekali keahlian, sekecil apapun. Seperti menjahit, memasak, dan berkebun. Jadi kreatif melakukan kegiatan apapun yang dapat menambah penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan hidup,” serunya.

Ditambahkannya, olah talenta kaum perempuan sangatlah berguna, terutama di masa pandemi ini. “Perempuan harus kreatif menuangkan kemampuannya. Itu sangatlah berguna,” tukasnya.

Selain itu, para perempuan juga bisa saling melengkapi satu sama lain, misal melalui forum atau arisan. Bisa saling berbagi ilmu.

Renita juga mengingatkan agar para perempuan pandai menjaga mulut, ucapan, dan perkataan dalam berbicara agar tetap dihargai dan menjadi panutan bagi sesama. “Ingat, mulutmu harimaumu. Jadilah perempuan Indonesia yang elok, elegan, anggun, cerdas, dan dihargai,” pungkasnya. (RN)