Dr. Tintin Surtini, SH., MH., M.Kn., lalu perjuangan hidup berbalut pengabdian tulus

Jakarta, innews.co.id – Putaran waktu terasa begitu cepat. Perjuangan demi perjuangan telah ia lalui dalam balutan pengabdian. Seperti tak kenal lelah, ia abdikan hidupnya untuk banyak orang.

Tak berhenti membagi ilmu menjadi citra yang begitu kentara pada sosok Dr. Tintin Surtini, SH., MH., M.Kn. Sebagai seorang Notaris/PPAT di Ibu Kota, Tintin sadar betul ilmu yang ia miliki menjadi warisan yang paling berharga, bukan hanya untuk keluarga, tapi juga pada banyak orang.

Dr. Tintin Surtini, SH., MH., M.Kn., (tengah) bersama kedua anaknya Hadi Yusdiarto, SH., MH., M.Kn., (kiri) dan Hj. Kurnia Yusmartina, SH., MH., M.Kn. (kanan)

“Ilmu itu bila dibagikan tidak akan sia-sia. Justru akan memperlengkapi orang lain. Dan bagi saya sendiri itu berguna, sehingga bisa terus belajar. Bukankah belajar itu tak mengenal usia?” ujar Tintin kepada innews, Rabu (19/8/2020).

Melalui berbagai media sosial dan online, ia kerap mewartakan kajian-kajiannya untuk bagaimana membenahi ketertinggalan hukum, terkhusus dalam dunia kenotariatan. Dengan jeli Tintin berupaya mengidentifikasi berbagai persoalan dan mencarikan solusinya.

Dr. Tintin Surtini bersama kedua cucu kembarnya Rafi Ataya Hadi dan Nabila Safiqa Hadi

Banyak hal dikritisi oleh Tintin demi kemajuan Notaris/PPAT, baik secara profesi maupun organisasi. Bila jeli, hal ini harusnya menjadi masukan berharga bagi banyak pihak. Sayangnya, tidak demikian. Namun, itu tidak mengurangi sikap kritisnya.

Ia pun acap kali diminta menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi ternama. Menurut Tintin, sebagai pengajar yang penting indentifikasi dan solusi telah disingkapkan. “Jangan pernah berharap satu apapun dari yang kita sebar. Karena bunyi kebaikan itu merupakan ‘benih’ yang akan terlihat nantinya sebagai pohon,” jelasnya.

Dr. Tintin Surtini bersama Presiden RI Ir. H. Joko Widodo dalam sebuah acara

Disertasinya yang membedah tuntas tentang “Reformasi Agraria”, telah membawanya meraih gelar Doktor dengan predikat cumlaude. Dalam disertasinya ia melontarkan buah-buah pemikiran tentang “Redistribusi/Redis” atas tanah-tanah perkebunan yang telah habis masa perpanjangan dan pembaharuannya. Dimana sepenuhnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat di sekitarnya. Pun dilengkapi pula dengan deviasi pada implementasinya, sehingga menjadi masukan yang sangat berguna bagi pemerintah.

Dr. Tintin Surtini bersama sejumlah tokoh nasional

Ibu dua orang anak yakni, H. Hadi Yusdiarto, SH., MH., M.Kn., dan Hj. Kurnia Yusmartina, SH., MH., M.Kn., ini juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dalam dan luar negeri. Salah satu kiprahnya yang mengemuka adalah membantu kepulangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terlantar di luar negeri. Namun, sosok Tintin yang dikenal low profile ini, membuat dia enggan mengekspos hal tersebut. “Saya khawatir jadi ‘riya’,” ungkapnya datar.

Dr. Tintin Surtini didepan kantornya yang asri

Tidak itu saja, Tintin juga dikenal aktif di Paguyuban Wanita Pejuang serta sebuah organisasi pelestarian hutan dan penghijauan (Green Net Indonesia/GNI), serta sejumlah organisasi lainnya.

Bagi Tintin, semua yang ia lakukan semata demi ridho Illahi. Dibalik pengabdiannya yang tiada lelah, ada rasa bangga di lubuk hatinya, yakni memiliki dua anak yang seprofesi dengannya dan dua cucu kembar Rafi Ataya Hadi dan Nabila Safiqa Hadi yang terbilang jenius dan berprestasi. “Pada akhirnya, harta saya yang paling berguna adalah doa dari anak dan cucu,” ujarnya.

Dr. Tintin Surtini saat menunaikan ibadah di Tanah Suci

Bila sejenak ia melihat perjalanan hidupnya, terpampang sebuah liku-liku kehidupan yang penuh perjuangan. Terlahir di daerah Kadungora, Garut, Jawa Barat, Tintin dulunya bekerja sebagai buruh dan menjual kayu bakar.

Dr. Tintin Surtini dalam berbagai aktifitasnya

Kadungora adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Garut, yang berjarak sekitar 16 kilometer dari ibu kota Kabupaten Garut ke arah utara. Pusat pemerintahannya berada di Desa Karangtengah.

Tekadnya kuat untuk merubah nasib. Jadilah Tintin hijrah ke Jakarta, tahun 1973. Awalnya yang ia tuju ada Masjid Al-Azhar. Di tempat itulah ia melewati hari-hari di Ibu Kota. “Hidup di Jakarta penuh perjuangan. Bahkan yang saya rasakan begitu berat. Hampir setiap hari saya puasa, kalau pun berbuka hanya dengan air kran,” kisah Tintin penuh haru.

Dr. Tintin Surtini bersama menteri, gubernur, dan sejumlah petinggi lainnya

Meski begitu, tekadnya sudah bulat dan dengan keyakinan penuh bahwa ia bisa menaklukan Ibu Kota. Ia pun rela menjadi tukang bersih-bersih. “Justru saya bersyukur karena yang saya bersihkan itu Rumah Allah,” ucapnya.

Hari berganti hari, kehidupannya mulai berubah. Perlahan nasibnya mulai berubah. Keinginannya semakin menguat didorong akan kemauannya untuk belajar.

Kedua putra putri Tintin,
H. Hadi Yusdiarto, SH., MH., M.Kn., (kiri) dan Hj. Kurnia Yusmartina, SH., MH., M.Kn.,

Singkat cerita, ia menetapkan Notaris/PPAT menjadi jalan hidup yang akan merubah hidupnya. Ternyata itu pilihan tepat. Keberhasilan demi keberhasilan ia alami. Meski begitu, Tintin tak membuatnya jumawa. Justru semua keberkahan yang ia dapatkan membuatnya selalu rindu untuk berbagi. Tak heran, ia selalu memberikan perhatian untuk warga di kampung halamannya. Bahkan, beberapa kali ia memberangkatkan umroh berbagai kalangan.

Dr. Tintin Surtini bersama Megawati Soekarnoputri

“Saya bersyukur atas perjalanan hidup yang sudah dilalui hingga kini. Semua menjadi pengalaman yang berharga. Saya hanya ingin hidup ini berguna bagi banyak orang,” pungkas Tintin. (RN)