Pelatihan Hak Kekayaan Intelektual yang dilakukan via zoom

Jakarta, innews.co.id – Selama dua hari, 13-14 Oktober 2020, Biro Sumber Daya Manusia (BSDM), Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) bekerjasama dengan Value Consultant (LegalTraining ID), mengadakan in-house training melalui aplikasi zoom, terkait pemahaman akan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Ini merupakan batch kedua, setelah sebelumnya dilakukan pada 28 dan 30 September 2020, diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia dengan tema yang diusung, “Hak Kekayaan Intelektual: Aspek Hukum, Proteksi, Prosedur, dan Komersialisasi”.

Pada pelatihan tersebut, Dr. Suyud Margono, narasumber utama mengatakan, tujuan umum program pelatihan ini agar secara komprehensif, peserta pelatihan mengetahui dasar dan latar belakang serta bentuk-bentuk objek perlindungan dan pembidangan HKI yaitu, Hak Cipta, Paten, Merek, Indikasi Geografis, Desain Industri, Rahasia Dagang, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Penegakan Hak serta Pengetahuan dan Teknologi Tradisional.

Dr. Suyud Margono narasumber utama dalam pelatihan HKI

Sementara itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk mengetahui prosedur serta proses registrasi HKI, mengetahui perspektif internasional perlindungan HKI, memahami fungsi dan komersialisasi HKI, dan hal-hal lainnya terkait proteksi HKI.

Selain itu, Suyud yang juga Sekretaris Jenderal Badan Arbitrase Mediasi HKI, juga memberikan pembekalan kepada peserta tentang aspek hukum HKI di Indonesia serta bagaimana proteksi sekaligus komersialisasi dapat diperoleh dengan menjalankan prosedur pendaftaran HKI yang benar, efisien. “Materi yang disajikan tidak hanya teori, tapi juga dilengkapi studi kasus yang terjadi seputar HKI,” terang Suyud dalam rilisnya, Jumat (16/10/2020)

Suyud mengapresiasi keaktifan peserta selama mengikuti pelatihan. “Saya lihat peserta begitu aktif terlibat, tidak saja dengan mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan, namun peserta juga memberikan informasi yang cukup untuk dimintakan konfirmasi, tanggapan atau jawaban,” kata Suyud.

Keaktifan peserta menstimulus peserta lainnya, sehingga masing-masing peserta memberikan kontribusi satu sama lain. “Hal ini khususnya terjadi dalam sesi role play (simulasi) terhadap kasus/permasalahan, yang pemecahan masalahnya harus dilakukan oleh para peserta terbagi dalam kelompok-kelompok (in group). “Kondisi ini menuntut peserta tetap fokus dimana masing-masing saling membantu untuk menemukan jawaban atau untuk mendapatkan poin-poin alternatif penyelesaian masalah (best alternative to negotiate agreement), berdasarkan bargain position mereka dalam kelompok,” tukas Suyud. (RN)