Ranto Simanjuntak, lebih memilih gabung di IRW dan menolak pinangan kubu Palmer Situmorang

Jakarta, innews.co.id – Musyawarah Nasional Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) akan berlangsung di Bandung, Jawa Barat, 25-27 Juni nanti. Dua paket calon sudah mendeklarasikan diri yakni IRW (Ismak, Ranto, dan Wenda) dan PHD (Palmer, Helmi, Donal), untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Sekretaris Jenderal.

Menariknya, di awal telah muncul pasangan Efran Helmi Juni dan Ranto Simanjuntak untuk maju sebagai Calon Ketua Umum dan Sekjend. Namun, seiring waktu keduanya pecah kongsi dan kini justru bersaing dengan paket masing-masing.

“Benar, saya dengan Efran awalnya sepakat untuk maju. Sudah bentuk tim sukses dan malahan sudah membuat jaket dengan nama berdua,” aku Ranto kepada innews, Senin (3/5/2021).

Namun, saat detik-detik akan melakukan pemotretan untuk membuat materi kampanye, tiba-tiba Efran menyatakan mundur, tanpa pemberitahuan apa-apa sebelumnya dan memilih mendukung Palmer Situmorang sebagai Calon Ketua Umum dengan proposal yang mereka sepakati berdua yaitu Efran sendiri didaulat menjadi Calon Wakil Ketua Umum dan Ranto diproyeksikan menjadi Sekjend.

Paket calon pengurus inti DPP AAI (ki-ka) Wenda Aluwi, Muhammad Ismak, dan Ranto Simanjuntak

Saat diberitahukan hal tersebut, sontak Ranto terkejut dan bertanya kepada Efran, apakan ini sudah keputusan atau masih mau kita diskusikan? Dan kenapa membuat keputusan sendiri tanpa mengikut sertakan saya dan tim. Saat bertemu langsung dengan Palmer dan Efran, Ranto mempertanyakan soal keberadaan dua senior AAI yang saat ini juga aktif di Peradi SAI. Posisi apa yang akan diberikan dalam struktur pengurusan? “Saya tanya hal itu karena tidak mau AAI ini nantinya malah dibawa masuk ke Peradi manapun khususnya Peradi SAI. Sebab sesuai AD/ART, maka AAI punya kemandirian dan harus tegak lurus, tidak berafiliasi dengan Organisasi Advokat manapun,” terangnya.

Merasa tidak ada jawaban tegas, Ranto memutuskan menolak tawaran sebagai Sekjend Palmer dan mengalihkan dukungan kepada paket Ismak dan Wenda. Ranto pun diminta ikut menjadi Calon Wakil Ketua Umum.

“Saya sangat kecewa dan merasa dikhianati. Saat awal, bahkan Kang Efran–panggilan akrab Efran Helmi, sempat keluar omongan, bahwa kami tidak akan terpisah karena ibarat sudah ijab kabul. Namun, secara diam-diam malah dia alihkan dukungan ke pihak lain tanpa ada pembicaraan apa-apa, baik ke saya atau tim,” ungkap Ranto seraya mengatakan ia merasa seperti ditusuk dari belakang oleh temannya sendiri.

Bagi Ranto, belum jadi pemimpin saja sudah berkhianat, apalagi kalau sudah jadi tentu akan berbahaya bagi organisasi. “Padahal harapan Saya ingin AAI menjadi organisasi advokat yang mandiri. Kedepan, tidak hanya pengurus yang tidak boleh rangkap jabatan, anggota pun demikian,” pungkasnya. (RN)