Novel anyar 'Pingko-Pingko' karya M. Tempel Tarigan bisa didapatkan di tokopedia

Jakarta, innews.co.id – Tak terbayangkan sebelumnya bagi pria Karo bernama lengkap M. Tempel Tarigan bahwa Ibu Kota tidak hanya merubah jalan hidupnya, tapi juga memberi pengalaman asmara yang membekas hingga di usia senja.

Di usianya yang telah melampaui 70-an tahun, dengan sigap, Tarigan melukiskan sebuah perjalanan hidupnya dalam novel berjudul ‘Pingko-Pingko’. Ini merupakan edisi lanjutan, setelah sebelumnya ia merilis novel duo bahasa (Karo dan Indonesia) bertajuk ‘Jandi La Surong’ yang sudah diangkat ke layar lebar.

Di novel keduanya ini, ia melukiskan perjalanan cintanya dengan Endang Purnamasari, gadis asal Lawang, Jawa Timur, saat dirinya merantau di Ibu Kota.

Pertemuannya dengan Endang terjadi saat ia menempuh kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik (PTP). Saat itu, selain bekerja sebagai sebagai wartawan, Tarigan juga kuliah untuk mempertajam insting jurnalisnya.

Di kampus, Endang adalah juniornya. Namun, pertemuan awal begitu membekas dalam hatinya. “Dia tipe wanita penuh gairah. Meletup-letup. Dia yang mengajarkan aku seni bercinta ala metropolitan,” aku Tarigan dalam goresan penanya.

Singkatnya, hubungan asmara pun terjalin, bahkan keduanya terlibat percintaan bergaya metropolitan. Tarigan meyakini, Endang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.

Panah asmara bak telah menembus relung hati keduanya. Hari-hari dilalui dengan indah. Pun, tatkala tak bertemu karena kesibukan, keduanya mencari waktu sekalipun singkat untuk melepas rindu. Bak, sepasang merpati, janji hidup bersama pun dipegang teguh.

Bahkan, Tarigan sempat mengajarkan Endang bahasa Karo, sebagai persiapan menjadi pendamping hidupnya kelak. Endang pun begitu bersemangat belajar bahasa Karo.

Namun, takdir berkata lain. Kondisi politik di Indonesia telah memutarbalikkan realitas cinta keduanya. Mereka harus terpisah jarak. Padahal, dua tahun sudah temali asmara terjalin.

Upaya Tarigan menyambangi Endang ke Lawang bak sia-sia. Rasa rindu yang begitu menyesakkan dada seperti menguap dihisap sinar mentari. Hubungan mereka pun harus berakhir pilu.

Haruskah Tarigan terpingko-pingko (menjerit rindu dalam sebuah penantian)? Novel anyar ini bisa diperoleh secara daring di tokopedia. Ini menjadi novel orang Karo pertama yang dijual secara online.

Novel yang ditulis langsung oleh Tempel Tarigan dibantu Rafael Tarigan Tambak ini menghadirkan suatu sensasi emosi yang meluap-luap dari sebuah perjalanan cinta yang berakhir tragis. (RN)