Prof Otto Hasibuan: Penyidik Diduga Persulit Peradi Temui Terpidana Kasus Vina dan Eki

Prof Otto Hasibuan, Ketua Umum DPN Peradi saat jumpa pers di Peradi Tower

Jakarta, innews.co.id – Dari 7 terpidana hukuman seumur hidup pada kasus pembunuhan Vina dan Eky, hanya Sudirman yang belum memberikan kuasa pada Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), meski orangtuanya sudah meminta.

Pasalnya, diduga polisi mempersulit upaya advokat Peradi, termasuk orangtuanya untuk menemui Sudirman. “Sejauh ini sudah enam terpidana hukuman seumur hidup menyerahkan. Satu lagi yakni, Sudirman belum karena kami dipersulit oleh pihak kepolisian untuk bertemu Sudirman yang katanya sudah cukup lama berada di Polda Jabar,” ungkap Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi, Prof Otto Hasibuan, usai meninjau langsung pelaksanaan Ujian Profesi Advokat (UPA) di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (29/6/2024).

Menurutnya, ironis bila ada pihak-pihak yang dengan sengaja merintangi tugas advokat. “Kalau advokat membela kliennya gampang dituduh merintangi penyidikan. Sementara advokat yang akan menemui calon klien karena membutuhkan pendampingan hukum, malah dipersulit. Sangat ironis sekali,” seru Prof Otto.

Dia menilai, menghalang-halangi advokat atau keluarga untuk bertemu dengan tersangka itu juga perintangan penegakan hukum dan merintangi hak-hak asasi (human rights).

Dikatakannya, UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin kepastian hukum bagi rakyatnya sehingga kalau dia tidak diperbolehkan bertemu dengan pihak keluarga atau pengacara, itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

“‎Piagam PBB juga sudah mengatur mengenai human rights. Saya berharap polisi memberikan hak dari terpidana, sebagaimana dijamin Konstitusi negeri ini demi tegaknya hukum dan keadilan,” tukasnya.

Dikatakannya, para advokat sangat menghormati kepolisian karena perannya sangat dibutuhkan. “Kita harus hormat pada polisi. Tapi sayang bila polisi yang sangat kita cintai tersebut sampai menutupi suatu hal yang tidak benar,” imbuhnya.

Bahkan, dirinya meminta agar Kapolri bisa membuka jalan kepada Peradi agar dapat mendampingi terpidana hukuman seumur hidup yang diduga korban proses hukum dan peradilan sesat.

Dijelaskannya, Peradi konsisten akan memperjuangkan keadilan bagi para terpidana hukuman seumur hidup tersebut. Menurutnya, kalau memang mereka terbukti bersalah pihaknya tetap akan melakukan pembelaan secara proporsional.

“Ya mungkin mohon keringanan. Tapi kalau dia tidak bersalah, kami akan berjuang terus. Itu prinsipnya,” pungkas Prof Otto Hasibuan. (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan