Raja Oemboe Nggikoe bersama putrinya Rambu Ata Pau dan kedua cucunya

Jakarta, innews.co.id – Kampung Umbara-Pau, yang berada di Nusa Tenggara Timur, pada 12 Februari lalu dikejutkan dengan kepergian Raja yang selama ini begitu dihormati dan dicintai masyarakatnya. Raja Oemboe Nggikoe dikenal sebagai pemimpin yang begitu bersahaja dan dekat dengan masyarakat. Tak heran, kepergiannya menyisakan duka yang dalam bagi segenap warga di kampung tersebut.

Menurut keterangan Rambu Ata Pau putri Raja Oemboe, seperti diceritakan kembali oleh Putri Simorangkir Ketua Bidang Sosial Budaya Baskara kepada innews, Rabu (17/2/2021), pihak keluarga sendiri terkejut dengan wafatnya Raja Oemboe. “Bapak Raja tidak ada menderita penyakit apa-apa sebelumnya. Selama ini, walau usia Bapak Raja 89 tahun, namun tetap sehat, penuh semangat. Tidak menunjukkan sakit yang berarti,” kisah Rambu Ata Pau.

Pun di kesehariannya, sambung Rambu Ata Pau, Raja Oemboe begitu dekat dengan warga. “Iya, Bapak Raja sangat dicintai oleh masyarakatnya,” kata Rambu Ata Pau.

Kenangan terakhir Rambu Ata Pau saat mencukur rambut Bapak Raja

Bahkan beberapa hari sebelumnya, sempat meminta Rambu Ata Pau memotongkan rambut serta mencukur jenggot beliau,” tutur Rambu Ata Pau.

Selama ini pun, memang hanya Rambu Ata Pau saja yang diizinkan memotong rambut maupun mencukur bagi Bapak Raja.

Pada Jumat, 12 Februari, lanjut Rambu Ata Pau, Bapak Raja mengalami batuk-batuk dan merasa agak sesak nafasnya. “Saya bersama adik berusaha menggosok tubuh Bapak Raja dengan minyak kayu putih, hingga beliau merasa agak membaik,” ceritanya.

Rambu Ata Pau dikenal sebagai penjaga warisan leluhur di Kampung Umbara-Pau, juga penenun kain tenun asli terbaik Sumba Timur

Ketika kondisi sudah membaik, Raja Oemboe sempat berpesan kepada Rambu Ata Pau agar ia selalu menjaga mamanya yang saat ini berusia 70 tahun, juga kedua adik, Umbu Njilik dan Rambu Teti serta Kampung Umbara – Pau dengan baik.

“Sekitar Pukul 16.30 WIT, Bapak Raja Oemboe Nggikoe disaksikan oleh istri Raja yaitu, Rambu Hara Aji, Rambu Ata Pau serta adik bungsu Rambu Teti, menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang,” ujar Rambu Ata Pau.

Sebelumnya, Umbara – Pau dipimpin oleh Raja Oemboe Windi Tanangoenjoe. Namun, karena Raja Oemboe Windi Tanangoenjoe tidak memiliki putra laki-laki, maka penggantinya adalah adiknya yaitu, Raja Oemboe Nggikoe.

Putri Simorangkir Ketua Bidang Sosial Budaya Baskara

Kepergian Raja Oemboe Nggikoe juga menyisakan duka bagi Putri Simorangkir. “Saya sangat berduka, karena selama ini Raja Oemboe lah yang menjadi penjaga warisan budaya leluhur di sana. Namun, saya bersyukur bahwa putri Raja Rambu Ata Pau selama ini dengan gigih terus berupaya melestarikan budaya yang ditinggalkan nenek moyangnya,” tukas Putri.

Harus diakui, lanjut Putri, wilayah Umbara-Pau sangat kaya akan budaya turun temurun. Mulai dari keberadaan makam-makam leluhur sampai pada tradisi tenun asli Sumba. “Selain alam nan indah, daerah tersebut merupakan penghasil tenun terbaik di Sumba Timur. Karya-karyanya bahkan sudah mendunia,” terang Putri.

Dirinya berharap, akan muncul raja baru yang mampu menjaga dan mengawal budaya leluhur di sana. “Kiranya Bapak Raja bahagia dalam perhentian abadinya. Dan, keluarga yang ditinggal diberi kekuatan, ketabahan, dan penghiburan,” tutup Putri. (RN)