Rektor Usahid Jakarta: Kenaikan UKT Bikin Anak Indonesia Makin Sulit Kuliah

Rektor Usahid Jakarta, Dr. Dra. Marlinda Irwanti Poernomo, SE., M.Si

Jakarta, innews.co.id – Polemik terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) mendapat reaksi keras dari para mahasiswa. Bahkan, mahasiswa dari berbagai kampus mengancam akan melakukan aksi besar-besaran hingga menduduki kantor Kemendikbudristek jika beleid tentang UKT ini tidak segera dicabut.

Hal tersebut juga mendapat perhatian dari Universitas Sahid (Usahid) Jakarta.

“Pada prinsipnya, pendidikan itu tidak boleh mahal dan harus bisa dijangkau oleh seluruh rakyat Indonesia. Karena pendidikan merupakan hulu dari upaya untuk menyejahterakan rakyat. Sebab, tanpa pendidikan, kesejahteraan tidak mungkin bisa kita wujudkan,” kata Rektor Usahid Jakarta, Dr. Dra. Marlinda Irwanti Poernomo, SE., M.Si., dalam keterangan persnya, di Jakarta, Sabtu (25/4/2024).

Untuk menyelesaikan masalah ini, para stakeholder di bidang pendidikan harus duduk bersama. “Anggaran pendidikan melalui APBN kan cukup besar. Namun, ada banyak persoalan juga. Saya dulu juga di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan. Banyak sekali masalah yang harus kita selesaikan kala itu,” akunya.

Marlinda optimis bila ada pembicaraan antara stakeholder di bidang pendidikan, mahasiwa dan orangtua tentu ada jalan keluar terbaik yang bisa diterima semua pihak. “Kenaikan UKT bisa membuat anak Indonesia semakin sulit untuk menempuh pendidikan tinggi,” tandasnya.

Apakah Usahid Jakarta bakal ikut menaikkan UKT? Dengan lugas Marlinda mengatakan, pihaknya berupaya tidak menaikkan UKT. “Mudah-mudahan kita masih sama seperti tahun sebelumnya,” jawab Ketua Umum Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) periode 2020-2024 dan mantan penyiar TVRI kondang ini.

Bahkan, lanjutnya, untuk tiga prodi baru, yakni Program Studi Pariwisata (S1), Magister Manajemen Lingkungan (S2), dan Magister Ilmu Hukum (S2), pihaknya akan memberikan diskon dalam bentuk beasiswa atau skema lainnya.

Tidak baik-baik saja

Lebih jauh Marlinda mengatakan, saat ini kondisi dunia pendidikan Indonesia tidak sedang baik-baik saja.

Dia berharap, Merdeka Belajar jangan hanya tagline semata, tetapi harus betul-betul diimplementasikan. Karena tanpa dunia pendidikan peradaban dunia juga akan berakhir.

“Pemberian diskon biaya pendidikan di Usahid Jakarta merupakan bentuk kepedulian agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan tinggi,” tukasnya.

Data menyebutkan jumlah lulusan S1, S2, dan S3, persentasenya masih lebih sedikit dibanding negara tetangga. “Indonesia harus dapat menunjukkan, selain jumlah lulusan S1, S2, dan S3 yang semakin banyak, juga kualitasnya terbaik,” tambah Marlinda.

Dia menambahkan, salah satu upaya memperbanyak jumlah lulusan perguruan tinggi adalah dengan memberikan lebih banyak beasiswa, sehingga anak-anak Indonesia bisa sekolah hingga kuliah. Bahkan, kalau bisa harus cuma-cuma alias gratis. (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan