Kong Miao, tempat ibadah umat Khonghucu yang ada di dalam Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Jakarta, innews.co.id – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengajukan sejumlah revisi terhadap Buku PPKN Kelas VII Kurikulum Merdeka yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ristek-Dikti.

Dalam pertemuan via kanal zoom, antara lain Bidang Perbukuan Kemendikbud dalam hal ini dihadiri Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar, Kurikulum & Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek, Kementerian Agama yang menaungi tiga agama yakni, Hindu, Buddha, dan Khonghucu, di mana untuk Khonghucu diwakili Suparno Pusbimdik Khonghucu, serta Matakin yang terdiri dari Ws. Chandra Setiawan, Ws. Urip Saputra, Ibu Lanny Guito, dan Js. Yugi Yunardi, disampaikan bahwa pemerintah memberikan kesempatan kepada otoritas setiap agama untuk melakukan revisi terhadap deskripsi agamanya masing-masing yang terdapat dalam Buku PPKn Kelas VII Kurikulum Merdeka pada halaman 79.

Matakin menyambut baik hal tersebut dikarenakan deskripsi terhadap Khonghucu tidak seluruhnya tepat. Seperti penulisan tentang kapan Agama Khonghucu berkembang dan tidak disebutkannya Kitab Suci Agama Khonghucu.

Hasil dari pertemuan tersebut, Pemerintah berkenan mengubah halaman 79 dengan jumlah baris yang terbatas. Disepakati pemuatan di halaman tersebut adalah Agama Khonghucu sudah tersebar berabad-abad lamanya di wilayah Nusantara (Indonesia), seiring masuknya orang Tionghoa dari daratan Tiongkok. Kitab suci agama Khonghucu yaitu, Sishu dan Wujing. Tempat ibadah umat Khonghucu disebut Kelenteng, Kongmiao, Miao, Litang, Bio. Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, Hari Lahir dan Wafat Nabi Kongzi, dan Qingming merupakan hari besar yang dirayakan umat Khonghucu. Rohaniwan Agama Khonghucu disebut Jiaosheng (Js), Wenshi (Ws), Xueshi (Xs).

Terkait rumah ibadah, secara lugas perwakilan MATAKIN menyampaikan bahwa Kelenteng sebagai tempat ibadah umat Khonghucu sudah sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yakni, Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, pada Pasal 46.

Dijelaskan, ketika Kelenteng Kwan Sing Bio dan Tjoe Ling Kiong Tuban didaftarkan sebagai Rumah Ibadah Agama Buddha tahun 2020, oleh Pengadilan Tata Usaha Negara melalui putusannya No.177/G/2020/PTUN-JKT, tertanggal 2 Maret 2021 diperintahkan kepada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI untuk mencabutnya.

Dirjen Bimas Buddha mematuhi putusan PTUN tersebut pun membatalkan pendaftaran sebagai rumah ibadah agama Buddha melalui Surat tertanggal 25 Maret 2021.

“Oleh karena itu, diharapkan umat Khonghucu tetaplah berpegang pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak terpengaruh adanya berita-berita di media yang beredar,” ujar MATAKIN dalam keterangan persnya yang diterima innews, Minggu (31/7/2022). (RN)