Jakarta, innews.co.id – Sambutan meriah, namun penuh kehangatan dan kekeluargaan mewarnai kedatangan Wakil Presiden Republik Iran Bidang Wanita dan Keluarga, Madame Masoumeh Ebtekar,Ph.D., ke Kantor DPP Kongres Wanita Indonesia (Kowani), di Jakarta, Rabu, (2/5).

Turun dari mobil kenegaraannya berplat nomor IRAN, Masoumeh Ebtekar langsung disambut Ketua Umum DPP Kowani Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., didampingi jajaran pengurus serta beberapa Ketua Organisasi anggota Kowani.

Kehangatan begitu nampak dan suasana penuh kekeluargaan menghantarkan Ebtekar memasuki kantor Kowani.

Dengan lugas Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan, “Kami merasa terhormat dan bangga atas kunjungan ini. Kami berharap, kunjungan ini merupakan awal dari jalinan hubungan antara Kowani dengan wanita-wanita Iran”.

Ebtekar pun terus melontarkan senyuman seolah menyatakan kebahagiaan hatinya bisa bertemu dengan para pengurus Kowani.

Pada kesempatan itu Ebtekar menjelaskan bahwa kekerasan domestik sangat jarang terjadi di Iran. Hal ini disebabkan oleh pendidikan dasar yang dilakukan kepada masyarakatnya sudah dijalani sedini mungkin, sehingga mereka bisa menghargai dan menghormati perempuan.

“Perjalanan berat yang dilalui Iran selama 40 tahun harus dilewati setelah revolusi. Hasilnya, kini sudah banyak kemajuan yang dicapai seperti dalam bidang pendidikan, politik, dan kesehatan. Rata-rata usia harapan hidup masyarakat Iran pun meningkat,” urai Ebtekar.

Wadah tertua

Sementara itu, dalam penyampaiannya, Giwo Rubianto menjelaskan mengenai keberadaan Kowani sebagai federasi organisasi wanita tertua dan terbesar di Indonesia yang kini telah mewadahi 91 organisasi wanita I tingkat pusat.

“Kowani didirikan melalui Kongres perempuan pertama pada 22 Desember 1929 oleh Perempuan Indonesia yang tujuannya membantu memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Tak heran, tanggal itu pula saat ini dikenal sebagai Hari Ibu,” jelas Giwo.

Setelah 90 tahun berlalu, dalam perjalanannya, perjuangan perempuan Indonesia telah membuat banyak kemajuan, tetapi tidak dapat disangkal bahwa saat ini masih ada banyak masalah, di antaranya, perempuan masih menghadapi masalah yang rumit oleh karenanya pemecahan masalah tersebut harus ada keterlibatan negara, pemerintah, dan organisasi wanita dengan tindakan nyata, bertindak cepat, sistematis, berkelanjutan, dan terukur.

“Bangsa yang besar adalah negara yang ramah terhadap kaum wanitanya. Tidak ada sejarah bangsa-bangsa beradab besar di dunia, tanpa keterlibatan perempuan yang besar. Oleh karenanya, kebangkitan wanita harus diwujudkan dalam kualitas nyata,” seru Giwo Rubiyanto penuh keyakinan.

Giwo lebih jauh menjelaskan, saat ini Kowani fokus pada sejumlah masalah untuk mengevaluasi potensi dan mengembangkan wanita dan anak-anak Indonesia.

“Secara keseluruhan, fokus utama Kowani adalah memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan di bidang-bidang seperti pendidikan, perekonomian, kesehatan, hukum, dan lingkungan hidup. Kowani juga bergerak aktif dalam lingkup internasional di mana Kowani mengambil peran utama di tingkat internasional untuk mendorong dan mengembangkan potensi Kowani untuk berpartisipasi aktif dalam forum regional dan internasional dengan bergabung sebagai anggota ICW, ACWO, dan pengakuan yang diterima dari badan PBB UN-ECOSOC,” urai Giwo yang disambut anggukan bangga dari Ebtekar.

Ditambahkannya, Kowani berharap bisa menjalin kerja sama secara berkelanjutan demi kemajuan perempuan pada kedua belah pihak. Pada kesempatan itu juga Giwo secara khusus mengundang Wakil Presiden Iran untuk hadir pada acara General Assembly ICW di Yogyakarta, September 2018 ini.

Sementara itu, Ebtekar mengatakan, dirinya banyak belajar dari Kowani dan sangat tertarik untuk lebih mengetahui mengenai berbagai kegiatan organisasi wanita terbesar di Indonesia ini.

“Banyak pencapaian Kowani yang saya kagumi. Kami juga bertukar informasi mengenai keberhasilan dan tantangan yang kami hadapi di negara masing-masing dalam hal pemberdayaan perempuan,” ujar Ebtekar.

Bukan sekedar berbagi informasi mengenai perempuan, Kowani dan Ebtekar berencana melanjutkan kerjasama antara lain seperti pertukaran kandidat untuk pelatihan.

Kedatangan Massoumeh Ebtekar ke Indonesia adalah untuk menghadiri Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) tentang Islam wasathiyah(moderat) pada 1-3 Mei 2018. (RN)