Nur Setia Alam Prawiranegara (baju kuning) menyerahkan kenang-kenangan kepada Bupati Malang HM Sanusi

Malang, innews.co.id – Candi Songgoriti yang terletak di Desa Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, merupakan salah satu candi tertua di Jawa Timur. Ditaksir candi ini didirikan sekitar abad ke-9 hingga 10 di masa pemerintahan Mpu Sindok. Candi berukuran 14,36 × 10 meter dengan tinggi aktual 2,44 meter ini memiliki catatan histori yang panjang.

Upaya melestarikan keberadaan candi ini, salah satunya dilakukan oleh wanita cantik Nur Setia Alam Prawiranegara. Pendiri Indonesian Feminist Lawyers Club (IFLC) ini menginisiasi diadakannya sarasehan dan buka puasa bersama di pelataran Candi Songgoriti, Senin (25/4/2022).

Nur Setia Alam menyerahkan kenang-kenangan dalam acara sarasehan dan bukber di Pelataran Candi Songgoriti, Malang, Jawa Timur

Turut hadir dalam acara bertajuk “Songgoriti Temple Civilization From Past to Future” (Candi Songgoriti Energi Keajaiban Dunia Dengan Peradaban di Masa Lampau Menuju Teknologi Masa Depan) ini di antaranya, HM Sanusi Bupati Malang, para stakeholders Kabupaten Malang, Kota Batu, dan Provinsi JawaTimur, akademisi, budayawan, mahasiswa dan masyarakat muda Karang Taruna Songgoriti. 

“Perhelatan ini ditujukan untuk membangkitkan semangat dan membangun jiwa masyarakat Indonesia pada umumnya dan warga Songgoriti pada khususnya, agar tidak melupakan teknologi, budaya, dan spiritual pada peradaban Candi Songgoriti sebagai cikal bakal kejayaan Nusantara. Selain itu, acara ini sebagai bentuk silaturahmi dan mempererat persaudaraan di Bulan Suci Ramadhan dengan berbuka puasa bersama,” kata Nur Alam dalam keterangan resminya kepada innews, Rabu (27/4/2022).

Suasana sarasehan dan buka puasa bersama di Pelataran Candi Songgoriti, Batu, Malang, Jawa Timur, Senin (25/4/2022)

Tampil sebagai narasumber pada kesempatan itu antara lain, Laksamana Pertama TNI Joko Sulistyanto Ketua Sinergitas BNPT, Prof Amien dan Joko Kiswanto Akademisi Sains, Teknologi dan Digital dari Institut Teknologi Surabaya (ITS), serta Ki Cokro selaku Sejarawan.

Tampil sebagai penceramah KH Fahmi Amrullah yang juga pimpinan pondok pesantren. Dalam ceramahnya, pria yang akrab disapa Gus Fahmi ini mengatakan, ini untuk pertama kalinya ia berceramah di Candi Songgoriti. “Biasanya saya ceramah di masjid atau tempat lainnya. Namun, ini adalah pertama kalinya ceramah dan buka puasa bersama di Candi Songgoriti,” ungkapnya.

Nur Setia Alam tengah memberikan sambutan

Namun, ia mengaku sangat antusias sekali. Menurutnya, bukber di Candi Songgoriti merupakan upaya melestarikan budaya. “Biarkan budaya berkembang dan dilestarikan. Jangan dihilangkan, karena budaya tidak akan berubah menjadi agama. Sehingga Indonesia tetap kaya,” serunya.

Hal tersebut diamini oleh Laksma TNI Joko Sulistyanto. Ia beranggapan, dengan melestarikan kearifan lokal, maka paham dari luar yang biasanya menggerus budaya Indonesia, bahkan paham radikalisme dan terorisme tidak akan pernah dapat masuk kepada generasi penerus bangsa.

Warga sekitar membubuhkan tanda tangan di spanduk yang disediakan panitia

Lebih jauh Nur Alam juga menyebutkan, ia bersama para peneliti sains dan teknologi yang berasal dari ITS akan memberi masukan kepada Kemendikbud Ristekdikti terkait Candi Songgoriti. “Kami akan meminta pemerintah membantu melestarikan cagar budaya ini. Sehingga pada akhirnya dapat tercapai rebranded image bahwa Songgoriti adalah kampung teknologi, budaya, dan spiritual,” tukasnya. (RN)