Andre Rahadian, Ketua Umum ILUNI UI dan Ketua Tim Koordinator Relawan Satgas Covid-19

Oleh : Andre Rahadian*

Ternyata Anda-lah sang pengancam keselamatan orang. Ya! Anda berpotensi menjadi pembunuh bagi orang-orang terdekat. Berpotensi menjadi penyebab kematian orang lain.

Anda boleh saja menilai kalimat di atas terlalu ekstrem. Sebelumnya, mari kita kembangkan pemikiran yang dingin. Anggap saja, kita sedang berdiskusi, mengidentifikasi ancaman nyata bernama Covid-19.

Kita mulai dari pembicaraan flu babi (swineflu). Flu babi pertama kali dikenali sebagai pandemi pada tahun 1919, dan masih menjangkiti sampai saat ini sebagai virus flu musiman. Flu babi disebabkan oleh strain virus H1N1, yang ada pada babi. Seketika, kita menghindari dan melokalisasi babi yang dianggap penyebar virus, agar kita “selamat”.

Lalu kita juga punya pengalaman dengan flu burung (birdflu). Flu burung merupakan flu yang ditularkan burung/unggas ke manusia. Dalam dunia medis, flu burung juga dikenal dengan sebutan avian influenza. Flu burung sendiri disebabkan oleh virus H5N1 (1996) atau H7N9 (2013). Infeksi virus ini bisa berujung pada kematian bila tidak ditangani dengan tepat.

Tak pelak, kita pun menghindari dan melokalisasi unggas sebagai carrier virus yang pertama kali dilaporkan pada tahun 1878 di Italia itu. Banyak kisah saat itu, petani unggas menderita kerugian ketika harus menghentikan usaha beternak unggas. Masyarakat, harus rela menyingkirkan burung atau unggas peliharaan dari rumahnya, demi tidak terpapar flu burung.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah benar dalam mengindentifikasi ancaman Covid-19 yang tengah mewabah di antara kita (dan belum ada vaksin penawarnya)? Kita menghindari droplet. Di awal pandemi ini, saat orang bersin atau batuk, orang-orang di sekitar spontan menjauh sambil melempar pandang penuh curiga.

Pertanyaan lanjutan: Apakah kita sadar virus itu sendiri bukan ancaman? Virus ini mempunyai daya hidup terbatas di udara atau di permukaan. Setelah itu, mati. Jadi, sebenarnya apa ancaman nyata Covid-19 terhadap kita?

Anda tentu tahu–buat yang belum tahu, maka ketahuilah, manusia adalah penyebar (carrier) dari Covid-19. Manusia terpapar dan menyebarkan Covid-19, ada yang menunjukkan gejala, ada yang tidak.

Nah, belajar dari swineflu dan birdflu, kita harus sadar bahwa ancaman saat ini adalah manusia. Kita, keluarga kita, teman kita dan orang di sekitar kita adalah pembawa penyakit ini. Benar: Saya, Anda, kita adalah (potensi) pembawa penyakit yang telah menewaskan lebih dari 5.100 orang di Indonesia, dan mendekati angka 700 ribu korban meninggal di seluruh dunia (data per 01/8/2020).

Jika pada flu babi dan flu burung, seketika kita bisa menjauhkan diri dari babi dan unggas, lantas bagaimana dengan flu yang dibawa oleh manusia? Dengan berat hati, orang per orang (yang sadar dan melek informasi), seketika me”lockdown” diri sendiri (dan keluarga) di rumah. Tagar medsos yang viral adalah #dirumahaja.

Untuk beberapa saat, sepertinya kita bisa mengendalikan penyebaran Covid-19. Persoalan muncul manakala pemerintah melakukan kebijakan pelonggaran aktivitas manusia. Dengan pertimbangan menyeimbangkan penanganan sektor kesehatan dan ekonomi, maka digulirkanlah era masa adaptasi kebiasaan baru.

Mudah ditebak. Aktivitas manusia menggeliat. Ibarat roda, makin lama putarannya makin kencang. Di Jakarta-–sekadar menyebut contoh– kembali macet.

Pergerakan manusia, tidak lagi sebatas lingkungan kecil, bahkan sudah relatif bebas bepergian.

Di sisi lain, berapa lama kita tahan untuk tidak keluar rumah dan tidak bertemu orang di luar rumah? Berapa lama kita bisa tidak kontak dengan pengantar makanan atau memakan makanan dari luar? Atau seberapa lama kita bisa melarang semua asisten rumah tangga beraktivitas di luar rumah? Melarang belanja ke pasar, misalnya?

Begitu sulit kita menghindar dari penyakit yang satu ini. Dia bukan babi atau burung yang bisa begitu saja kita enyahkan. Ini persoalan hubungan antar-manusia. Ini juga soal perasaan manusia itu sendiri, lengkap dengan segala habbit-nya untuk berkumpul, bersilaturahmi, atau sekadar hangout.

Sampai hari ini para pakar menyampaikan hanya ada satu pilihan yaitu mentaati dua hal. Pertama, disiplin diri. Kedua, sikap konsisten dalam menjalankannya. Kedua hal ini paling ampuh menghindari kemungkinan tertular dan menularkan.

Mudah ditulis, lebih mudah lagi untuk diucapkan. Akan tetapi, sangat sulit untuk dipraktekkan. Terlebih disiplin dan konsisten melaksanakan protokol kesehatan, terutama dalam hal menjaga jarak (physical distancing).

Sikap permisif kita, entah dengan dalih apa pun, bisa dengan mudah mengatakan, “Orang itu (anggota keluarga atau sahabat) tidak mungkin terjangkit.” atau justru sikap yakin diri yang kurang tepat, “Saya sehat, dan tidak mungkin terjangkit.” akan membuat penyebaran virus ini tetap tinggi.

Kita harus sadar dan mau mengubah gaya hidup dan cara berinteraksi dengan siapapun dia (sepanjang dia seorang manusia). Tentu saja ada penolakan dalam hati kecil dan alam bawah sadar kita. Terlebih, kita telah puluhan tahun hidup tidak dengan “kewaspadaan” sejenis itu. Akibatnya, membuat kita canggung dan merasa kurang nyaman dalam berinteraksi.

Apa boleh buat, itu yang harus kita lakukan. Suka tidak suka, saya, Anda, kita, harus menanamkan hal itu dalam perasaan dan logika kita. Salah satu caranya justru dengan mengajak orang lain bersikap, bertindak, dan berpikir sesuai protokol yang dibuat Satgas Penanganan Covid-19.

Kita sadar, manusia bukan burung, apalagi babi. Tapi percayalah! Dalam konteks Covid-19, justru Manusia adalah makhluk yang jadi ancaman. Sebab, manusia adalah “babi” dalam flu babi. Manusia adalah “burung” dalam flu burung. (*)

* Andre Rahadian, Ketua Umum ILUNI UI dan Ketua Tim Koordinator Relawan Satgas Covid-19