Yance Mote Sekretaris Umum HIPMI Papua

Papua, innews.co.id – Pembangunan Tanah Papua akan semakin menggeliat bila pelibatan putra asli untuk berinvestasi. Untuk itu, secara khusus Yance Mote Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Papua, meminta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar memudahkan para pebisnis lokal dalam berinvestasi di berbagai bidang usaha.

Hal ini disampaikan Yance Mote kepada innews, Minggu (21/6/2020) malam. “Kami pengusaha Papua meminta Kepala BKPM RI memberi kemudahan untuk berinvestasi. Misal, memberikan hak konsesi tambang kepada putra asli hak pengelolaan tambang,” ujarnya

Diakuinya, selama ini ijin tambang sulit diperoleh. “Sampai hari ini, tambang rakyat di Papua banyak yang ilegal. Ini lantaran sulitnya mendapat izin. Seperti terjadi di Nabire dan sekitarnya,” jelasnya.

Hal serupa juga terjadi pada pengelolaan HPH kayu. Demikian juga ijin penangkapan ikan. “PAD Papua belum signifikan karena terjadi banyak kebocoran. Dengan dana Otsus yang minim, harusnya sektor rill dan sumber kekayaan alam dikelola oleh BUMD, Kopermas atau pengusaha lokal sehingga kesempatan usaha dan investasi bisa didapatkan,” tegas Yance.

Sebelumnya, Kepala Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia saat menjadi pembicara pada Papua Development Summit 2019, di Jakarta, Selasa (17/12/2019) mengatakan, dana otonomi khusus (otsus) tidak cukup membangunkan potensi Papua.

“Ternyata dana otsus tidak cukup untuk membangun Papua. Papua membutuhkan investasi agar wilayah itu bisa tumbuh lebih cepat,” ujarnya.

Bahlil mengatakan pemerintah berencana mendatangkan investor di berbagai bidang seperti hilirisasi dan pariwisata. Untuk hilirisasi, ia menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 23.000 MW. Lanjutnya, pembangunan PLTA itu sanggup untuk mencukupi kebutuhan hilirisasi nikel dan bijih mineral lainnya baik dari Australia, Filipina, dan daerah lainnya. Belum lagi biaya produksi listriknya diperkirakan akan cukup efisien.

Bahlil juga berencana memboyong investor untuk mengembangkan pariwisata di Raja Ampat. Selain itu, ada rencana mengembangkan perkebunan Pala di Fak-fak. Investasi di perkebunan itu memiliki potensi nilai sebesar Rp2 triliun.

“Bapak Bupati Fak-Fak tolong disiapkan lahannya, kita sudah punya investor, dia mau investasi sebesar Rp2 triliun untuk Pala,” kata Bahlil. Papua, menurut APBN 2020, akan memperoleh dana otsus sebesar Rp8,37 triliun. Nilai ini naik dari angka 2019 senilai Rp8,36 triliun. (RN)