Invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan banyak warga sipil kehilangan nyawa

Jakarta, innews.co.id – Serangan Rusia ke sebuah mal yang dipadati ribuan pengunjung di Kota Kremenchuk, Ukraina Tengah, dan telah menewaskan 20 orang warga sipil, dianggap sebagai sebuah tindakan brutal serta tidak beradab.

Sejumlah pemimpin negara-negara G-7 menyebut serangan membabi-buta tersebut menambah bukti kejahatan perang Rusia. Dan, Presiden Rusia, Vladimir Putin akan dimintai pertanggungjawaban.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, menyebutnya sebagai tindakan pengecut. Kepada Dewan Keamanan PBB, Zelenskyy mengatakan, Rusia telah bertindak seperti negara teroris, dengan melakukan “pembunuhan besar-besaran” di seluruh Ukraina. Bahkan, Zelenskyy mengatakan, dengan telah menyerang sekolah, pusat perbelanjaan dan banyak sasaran sipil lainnya, Rusia tidak lagi memiliki hak untuk tetap berada di badan PBB tersebut.

Rusia coba membela diri dengan berdalih bahwa rudalnya ‘tidak sengaja’ menghancurkan fasilitas sipil. Namun, klaim tersebut dengan tegas ditolak Pemerintah Ukraina dan menyebutnya sebagai kebohongan yang kian menandai metode public relation (PR) yan dipakai Rusia dalam perang yang tengah terjadi.

Tak hanya di Kremenchuk, Rusia juga membombardir Kota Lysychansk dengan roket, saat penduduk tengah mengambil persediaan air minum. “Delapan warga Lysychansk meninggal, 21 orang dibawa ke rumah sakit,” ungkap Gubernur Luhansk, Sergiy Haidai, melalui telegram, sebagaimana ditulis Reuters dan EuroNews. Dikatakan, Rusia menggunakan roket tipe Uragan yang mengandung amunisi tandan dalam serangan tersebut.

Sementara itu, seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan, Rusia selama akhir pekan lalu Rusia telah melakukan sekitar 60 serangan. Beberapa di antaranya serangan curang terhadap permukiman penduduk dan fasilitas sipil. Sejak menginvasi Ukraina, 24 Februari lalu, Rusia telah melakukan pemboman udara kepada gedung teater di kota pelabuhan Mariupol, Maret lalu, yang menjadi tempat berlindung 600 orang warga sipil.

Di sisi lain, Juru Bicara Pemerintah Daerah Odesa, Serhiy Bratchuk, mengatakan Rusia juga berkali-kali menyerang dan menghancurkan permukiman warga di Odesa. Demikian halnya warga Kota Kharkiv yang berkali-kali mendapatkan serangan roket Rusia. Selain menghancurkan rumah-rumah warga, menurut gubernur wilayah itu, serangan juga menewaskan empat orang dan melukai 19 orang lainnya.

Pada Ahad lalu, Rusia kembali menyerang Ibu Kota Kyiv dengan rentetan roket. Sebagai reaksi atas pemboman selama akhir pekan itu, Presiden Zelenskyy mengatakan dalam pidatonya, Ahad malam bahwa Ukraina membutuhkan sistem pertahanan udara modern untuk mencegah serangan rudal-rudal Rusia kepada warga sipil tersebut.

Dikatakan, serangan-serangan Rusia terhadap permukiman warga dan fasilitas sipil itu telah membuat tempat tinggal dari 3,5 juta orang telah hancur. Secara angka, jumlah Kementerian Pengembangan Masyarakat dan Wilayah Ukraina mencatat bahwa 116 ribu bangunan tempat tinggal telah hancur binasa.

Rusia dinilai telah memainkan permainan ‘hunger game’, tidak saja kepada Ukraina, tetapi terhadap masyarakat dunia. Selama ini, bersama Rusia, Ukraina adalah pemasok hampir 30 persen gandum dunia. Caranya, Rusia menutup ekspor bahan pangan Ukraina dengan memblokade pelabuhan laut Ukraina serta menghancurkan panen Ukraina.

Di sektor pertanian, invasi Rusia telah menyebabkan kerusakan pada sektor pertanian Ukraina, dengan total kerugian sebesar 4,29 miliar dollar AS. Kategori kerusakan terbesar adalah kerusakan pada lahan pertanian, termasuk tanaman musim dingin yang tidak dipanen, yang angkanya lebih dari 2,135 miliar dollar AS.

Secara tegas, Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken, mengutuk serangan rudal di pusat perbelanjaan Kremenchuk tersebut dengan mengatakan bahwa dunia ngeri dengan cara-cara Rusia melakukan serangan terhadap sasaran sipil.

Serangan kepada Ibu Kota Ukraina, Ahad lalu—serangan pertama dalam beberapa pekan ini– juga dikutuk Presiden AS Joe Biden sebagai perilaku ‘barbar’. Washington juga dilaporkan siap menyediakan sistem rudal permukaan ke udara canggih untuk Ukraina, serta dukungan artileri tambahan.

Pada bagian lain, Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, Senin (27/6/2022) lalu mengatakan, pemerintahan Presiden Biden sedang menyelesaikan paket senjata lain untuk Ukraina.

Dalam keterangan resminya, Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan, Rusia tidak akan serius dalam negosiasi, sampai tentara Ukraina mengalahkan mereka dan mengusir pasukannya keluar wilayah Ukraina.

Kementerian juga mengatakan, para sekutu Ukraina perlu memperkuat kekuatan Ukraina, sebelum pembicaraan apa pun di masa depan, dan memastikan bahwa Rusia kehilangan kapasitas untuk agresi lebih lanjut. “Hanya rakyat Ukraina dan hanya merekalah yang akan memutuskan masa depan Ukraina dan syarat-syarat perdamaian di tanah Ukraina kami,”kata pernyataan tersebut.

Saat ini, lanjut pernyataan tersebut, Ukraina membutuhkan lebih banyak senjata berat dan sistem pertahanan rudal untuk membendung pemboman Rusia dan membebaskan semua wilayah yang mereka duduki.

“Bantuan militer ke Ukraina merupakan kontribusi untuk memperkuat hukum internasional dan memastikan perdamaian dan keamanan jangka panjang di Eropa,” kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.

“Kami menyarankan untuk berkonsentrasi pada tiga target utama yang diusulkan Grup Internasional Yermak-McFaul, yakni (1) menargetkan sanksi pada sektor energi, keuangan, dan perdagangan; (2) mengurutkan sanksi pribadi berikutnya pada oligarki, pejabat senior pemerintah Rusia, dan eksekutif kunci perusahaan milik negara, serta (3) menutup semua celah yang bisa digunakan oleh Rusia,” kata Kemenlu Ukraina.

Mereka juga mendesak agar semua lembaga dan negara anggota Uni Eropa untuk mengikuti jejak AS dan Inggris, dan berupaya segera melakukan embargo minyak dan gas secara penuh terhadap Rusia. (RN)