Jonathan Sihotang dan istri

Jakarta, innews.co.id – Hinaan dan perlakuan tak manusiawi yang diterima Jonathan Sihotang tenaga kerja Indonesia di Malaysia membuatnya gelap mata, hingga sang majikan harus meregang nyawa. Atas perbuatannya tersebut, ia kini mendekam di penjara Pulau Pinang, Georgetown, Malaysia, dan menunggu putusan vonis mati di tingkat Kasasi Mahkamah Agung Malaysia.

Jelas, perbuatan Jonathan bukan suatu kesengajaan. Karena itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Punguan Pomparan Raja Sigodangulu Sihotang dohot Boruna se-Indonesia (PPRSSBI), menilai, hakim pun harus objektif dalam memutus perkara ini.

“Jonathan sama sekali tidak punya niat untuk membunuh majikannya namun karena emosi sesaat yang ditimbulkan perlakuan kasar dan hinaan diterima Jonathan dari korban,” kata Ketua Umum DPP PPRSSBI Henri Sihotang, dalam rilisnya, Jumat (24/7/2020).

Menurutnya, PPRSSBI akan terus bergerak dan tidak akan berhenti memperjuangakan keadilan untuk Jonathan Sihotang. Melalui Tim Advokasi yang dinahkodai Tommy Sihotang dan Patar Sihotang, PPRSSBI berkeyakinan Jonathan Sihotang akan dibebaskan dari vonis mati di Malaysia.

“Puluhan ribu keturunan PPRSSBI bahkan di seluruh dunia bersatu hati memberikan dukungan dan doa kepada Jonathan Sihotang agar mendapat keringanan hukuman dan pembebasan dari ancaman pidana mati atau hukuman gantung oleh Kerajaan Malaysia yang sudah didepan mata,” kata Henri.

Sementara itu, Tatang Sihotang Wasekjen DPP PPRSSBI mengatakan, pembunuhan adalah tindakan melawan hukum. Namun, vonis mati atau hukuman gantung untuk seseorang membunuh karena alasan terpaksa dan membela diri juga merupakan suatu keputusan melawan kodrati kemanusiaan.

“Sebab hanya Tuhan lah pemilik kehidupan yang berhak mengambil nyawa seseorang, bukan ditentukan ketukan palu hakim yang kurang bijaksana melihat sisi-sisi hukum yang berkeadilan. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir,” ujarnya.

Seperti diketahui, Jonathan Sihotang merupakan TKI asal Pematang Siantar, Sumatera Utara yang terancam hukuman mati karena diduga membunuh majikannya, Sia Seok Nee (44) di Kilang Toto Food Trading, Kampung Selamat, Tasek Gelugor pada 19 Desember 2018, silam.

Ketua Tim Advokasi Tommy Sihotang berjanji akan berjuang dengan segala upaya mengawal proses kasasi di Malaysia dengan meminta dan mendesak Pemerintah Republik Indonesia dibawah pimpinan Presiden Joko Widodo, dalam hal ini Kemenkopolhukam, Kemenkumham, Kemenlu (Konsulat Jenderal RI di Malaysia) agar melakukan lobi-lobi diplomatik dengan Pemerintahan Malaysia untuk pembebasan Jonathan Sihotang dari vonis hukuman gantung di Malaysia.

Henri menambahkan, kepergian Jonathan ke Malaysia demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Anaknya masih kecil-kecil dan membutuhkan figur seorang ayah. Sayangnya, naas ia alami karena mendapatkan majikan yang sangat picik dan licik serta tidak memperlakukannya dengan manusiawi. (RN)