Siti Djumiadini Ketua DPD APJI DKI Jakarta

Jakarta, innews.co.id – Usaha katering yang dijalaninya kini merupakan legacy dari sang ibu yang sejak 1984 telah membuka bisnis olah rasa tersebut.

Kini, ditangannya, Dhirasa Catering kian mengkilap, tidak hanya menghandle kebutuhan untuk wedding, tapi juga merambah ke perusahaan-perusahaan besar, seperti Freeport, PGN, RCTI, Perusahaan Batubara Asam Jawa, Pikko Group, Indomobil, PLN, Telkom, begitu juga di kalangan pemerintahan.

Siti Djumiandini (kiri), membangun bisnis katering dengan hati

Sebelum menukangi katering ini, Siti Djumiandini berkarir di BPPN. Ia memutuskan keluar tahun 2002 karena melihat prospek katering milik sang ibu bisa mengkilap kedepan. Namun, terbilang intens mengelola katering sekitar tahun 2005.

Diakuinya, sekarang bisnis katering begitu menjamur. Tidak itu saja, tapi dari sisi makanan maupun cara menyajikannya pun beragam. Namun, itu bagian dari promosi dan lebih menarik hati konsumen. “Kalau dulu, bonus katering hanya makanan, sekarang semakin beragam,” ujar Siti yang juga Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) DKI Jakarta ini.

Siti Djumiandini saat memberikan bantuan

Tak heran, saat ini Dhirasa Catering lebih concern tangani order-order perusahaan. Seperti baru-baru ini ia mengirim 10 ton makanan pesanan dari PT Freeport Indonesia.

Bicara soal jenis makanan, menurut Siti, kateringnya kini banyak menyajikan makanan-makanan tradisional, seperti nasi kapau, coto makassar, nasi liwet, dan lainnya. Walau begitu, untuk makanan umum dan internasional tak kalah juga rasanya.

Siti dalam kegiatan APJI

Begitu juga soal langganan, lantaran sudah lama berkiprah, Dhirasa Catering telah memiliki pelanggan setia, salah satunya istri Emil Salim yang sejak tahun 80an bila ada acara pasti memesan makanan di Kadira. Begitu juga Tanri Abeng, dan lainnya.

Dalam melakoni bisnisnya, Siti tidak melulu melihat margin keuntungan, tapi juga bagaimana bisa melayani semua konsumennya dengan baik. “Saya mau melayani dengan hati, bukan sekadar profesionalitas kerja,” kata Siti.

Sementara itu, Siti mengakui, kendala yang kerap dihadapi adalah soal bahan baku, dimana kalau tiba-tiba naik, maka Siti pun mengalami kerepotan. Guna mensiasati hal tersebut, dibutuhkan strategi-strategi khusus sehingga hal itu bisa ditangani dengan baik. Namun, Siti memastikan menghubungi konsumen lebih dulu bilamana terjadi perubahan.

Bagi Siti, kalau bisa dikerjakan serius, maka bisnis ini bisa memberi hasil positif.

Siti Djumiandini saat memberikan sambutan di acara APJI

Lebih jauh Siti mengatakan, pada umumnya katering tergolong UMKM. Namun, banyak pemerintah daerah kurang aware terhadap pengembangan bisnis ini.

Meski banyak event kuliner di Jakarta, menurut Siti, tidak semua bisa digarap pelaku bisnis ini. “Pemerintah harusnya bisa menggelar sejumlah acara, namun tidak semuanya seperti diharapkan,” jelas Siti.

Siti senantiasa mengutamakan pelayanan dalam kateringnya

Dari sisi permodalan, Siti berharap, syaratnya bisa dipermudah. Yang ada selama ini persyaratannya disamping sulit juga bermacam-macam.

Ditanya soal obsesi kedepan, Siti ternyata menyimpan misi besar, yakni bagaimana usaha kateringnya bisa lebih berkembang dan menangani katering perusahaan-perusahaan besar.

Sementara itu, soal APJI DKI kedepan, Siti berharap bisa terus bertambah jumlah anggotanya. Demikian juga dari sisi peluang mendapatkan tambahan modal bisa dipermudah dan bea pajak diturunkan. Selain itu, kepada segenap anggota APJI DKI, diharapkan bisa selalu solid dan kompak. “Melalui kekompakan dan kesolidan, maka kita bisa melakukan banyak hal yang baik untuk kepentingan semua anggota,” pungkasnya. (RN)