Ir. Dewi Arimbi Ketua DPP PPP berziarah ke makam kedua orangtuanya yang adalah pahlawan kemerdekaan dan idola serta sumber inspirasinya di Hari Pahlawan, Rabu (10/11/2021)

Jakarta, innews.co.id – Selama bertahun-tahun, dirinya dipercaya menjadi dokter pribadi Bung Soekarno dan Bung Hatta, duet Proklamator RI. Pun ia menggagas berdirinya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai wadah persatuan para dokter di Nusantara ini.

Sosok Mayor Jenderal (tituler) TNI AD H. Dr. dr. R. Soeharto Sastrosoeyoso, dikenal sebagai dokter yang memiliki kepribadian sederhana dan merakyat. Pria kelahiran Tegalgondo, Solo, Jawa Tengah, 24 Desember 1908 ini, bisa dikatakan kenyang pengalaman, baik sebelum sampai pasca Kemerdekaan RI. Berbagai perjalanan berbahaya pun pernah ia lakoni saat mendampingi Bung Karno.

Pria low profile yang wafat di Jakarta, 30 November 2000, di usia ke-92 tahun itu, menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Medica Bataviensis, Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (STK). Dirinya juga tercatat sebagai tokoh bangsa yang menggagas berdirinya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 24 Oktober 1950.

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, Soeharto membuka klinik bersalin di Kramat 128, selain tetap menjalankan praktik kedokteran keluarga (hiusarts). Dirinya juga tercatat sebagai pendiri sekaligus Ketua PKBI pertama yang dibentuk pada 23 Desember 1957.

Di masa Orde Lama dan Orde Baru, Soeharto juga tercatat menduduki sejumlah jabatan strategis antara lain, Menteri Koordinator Urusan Perancangan Pembangunan Nasional ke-I. Juga dipercaya sebagai Menteri Urusan Penerbitan Bank dan Modal Swasta. Lalu, menjadi Menteri Perdagangan RI ke-15 dan Menteri Muda atau Menteri Perindustrian Rakyat ke-15.

Spirit pengabdiannya terhadap bangsa dan negara begitu membara, bahkan tak surut di makan usia. Meski ia berlatar seorang dokter, namun Soeharto berperan penting pada pendirian sejumlah sarana dan prasarana di Indonesia. Ia tercatat sebagai salah satu Pendiri Bank BNI 46, juga berperan penting pada pembangunan Hotel Pertama di Indonesia dan Gedung Sarinah Jaya yang berlokasi di Jalan Thamrin, Jakarta, dan menjadi pusat perbelanjaan pertama di Indonesia. Pun, Soeharto ikut andil dalam pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta.

Soeharto menempuh pendidikan dasar di Europe Lagere School di Solo dan Madiun, serta Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Madiun. Dan, menjalani pendidikan di Algemeene Middlebare School (AMS) B di Yogyakarta, sebelum akhirnya meraih gelar dokter di Fakultas Medica Bataviensis.

Putri Soeharto Ir. Hj. Dewi Arimbi Soeharto Alamsjah mengatakan, ia bersama keluarga bersepakat mengajukan ke pemerintah agar ayahanda bisa menjadi Pahlawan Nasional. “Perjuangan gigih ayah saya, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan, baik sebagai tentara maupun dokter, dijalani dengan tanpa kenal lelah. Termasuk mendampingi Presiden-Wapres RI Pertama Soekarno dan Bung Hatta. Baginya, kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang hakiki dan harus diperjuangkan sampai tetes darah penghabisan,” ungkap Dewi Arimbi, kepada innews, Kamis (23/12/2021).

Dirinya bersyukur, niatan tulus dari keluarga besarnya mendapat dukungan dari berbagai pihak. “Alhamdulillah, usulan untuk menjadikan Bapak sebagai Pahlawan Nasional didukung oleh banyak pihak,” kata Dewi yang dikenal sebagai sosok pengusaha dan petinggi sebuah partai politik lagi.

Ini terbukti dengan diadakannya Seminar Pengusulan Calon Pahlawan Nasional H. Dr. dr. R. Soeharto, di Pendopo Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu, 22 Desember 2021, baik secara daring maupun luring. Hadir pada seminar tersebut, Bupati Klaten Hj. Sri Mulyani, Ketua Masyarakat Sejawaran Indonesia (MSI) Prof Wasino. Tampil sebagai narasumber Putri Proklamator Halidah Nuriah Hatta, Departemen Sejarah UGM Sri Margana, dan perwakilan dari keluarga Dewi Kamaratih Soeharto.

“Kami dari keluarga tentu berharap agar Pemerintah bisa mendukung niatan luhur ini dan sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian yang telah diberikan bagi bangsa dan negara,” pungkas Dewi Arimbi. (RN)