Dr. H. Joni, SH., MH., Notaris, Pengurus Ikatan Notaris Undip Pusat, dan pengamat hukum, sosial, politik kemasyarakatan

Oleh: Dr. H. Joni, SH., MH*

MUSIBAH bertubi-tubi mewarnai tahun 2020, dimana sebagian besar musibah itu datang akibat tangan manusia sendiri. Simaklah misalnya, korban berjatuhan terjangkit virus korona karena kerumunan massa, baik karena Pilkada Serentak 2020 maupun karena kerumunan pada peristiwa kepulangan Habib Rizieq Shihab dengan segala implikasinya.

Apa pun catatan di tahun 2020, segera terlewati. Yang akan menjadi momentum bersejarah ketika mekanisme ketatanegaraan sampai pada siklus lima tahunan, yaitu Pilkada Serentak 2020 yang baru lewat.

Tak bermaksud untuk berpesimis, namun kesemuanya harus secara proporsional menjadi landasan kuat bagi kekokohan bangsa Indonesia ke depan. Bangsa Indonesia, kita semua, harus menjadikan musibah yang terjadi sebagai momentum untuk berkaca diri. Musibah bertubi menimpa Indonesia dan karenanya Indonesia berduka. Menjadi catatan penting ketika kerugian yang muncul tak terhitung. Apalagi korban jiwa yang juga berjatuhan akibat musibah khususnya lantaran begitu ganasnya virus korona.

Fenomena Alam, Contoh, dan Hikmah

Pertanda alam, hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk menapak tahun 2021. Pertanda kemurkaan alam sejatinya tidak hanya dipandang sebagai fenomena yang kapanpun bisa muncul, namun hendaknya musibah yang merupakan geliat alam yang menimbulkan korban jiwa dimaknai sebagai satu peristiwa yang tidak semata terjadi dan kemudian lewat bersama berlalunya sang waktu.

Virus Korona

Sejauh ini, pertanyaan yang tidak pernah diajukan adalah: Mengapa fenomena alam yang kerap terjadi di negeri zamrud khatulistiwa ini, khususnya tentang pandemi korona menimpa masyarakat dunia, juga kita di Tanah Air tercinta?

Sekaitan dengan hal ini, yang bisa menjawab permasalahan itu, meskipun abstrak dan tidak bisa dibuktikan secara konkrit berdasarkan telisik panca indera manusia, termasuk dengan bukti pendukungnya, adalah agama. Agama bisa menjelaskan itu semua. Sekali lagi yang bisa menjawab hanya agama. Tepatnya ajaran agama. Cuma bukti konkritnya yang kemudian diajukan sebagai argumentasi menjadi debatable atau mengundang perdebatan.

Kita pernah mengalami musibah besar, misalnya tsunami di Aceh. Tsunami di Aceh terjadi saat itu karena terjadinya konflik dimana saudara kita di sana maunya memisahkan diri dari Republik Indonesia. Mereka mempunyai tentara dan melakukan berbagai kegiatan perang di bawah panji Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Konflik berpuluh tahun itu akhirnya terhenti karena tsunami. Ribuan korban telanjur jatuh. Tetapi syukur bahwa pada akhirnya pemberontakan itu bisa diselesaikan dengan pemberian otonomi khusus (Otsus).

Tsunami di Aceh, 2004 silam

Intinya, masyarakat di sana bertaubat dan segera menyadari bahwa memisahkan diri adalah jalan yang salah. Untuk itu, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi adalah jalan yang benar dan suasana menjadi damai kembali.

Di Pulau Lombok juga demikian. Pernah terjadi gempa susul menyusul dalam rentang waktu yang berlangsung puluhan kali. Sebagaimana diwartakan, ada satu kawasan bernama Gili Trawangan yang sudah berpuluh tahun menjadi surga maksiat. Kawasan yang merupakan pulau kecil itu dikenal sebagai surganya para penyalur sahwat. Dari sana dikenal istilah sumur (susu dijemur), dan istilah nakal lainnya karena semua yang datang kesana tidak berbusana.

Di Palu juga demikian. Pasca penumpasan kelompok teroris Santoso di Poso, tak begitu jauh dari Palu, tumbuh subur LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Kelompok yang rata-rata disponsori oleh orang-orang tak beragama atau beframagama hanya di KTP kemudian menyalurkan hasrat nafsunya dalam bingkai yang secara biologis tidak normal. Mereka berjuang, bahkan dengan berupaya masuk dalam bingkai politik untuk memperoleh legitimasi.

Demikian juga di kawasan lain yang diterjang musibah. Semuanya dapat ditelusuri adanya perilaku maksiat yang berlangsung semenjak lama, dalam berbagai bentuk perilaku mengingkari ajaran agama yang bersih dan luhur.

Perilaku yang senantiasa mengulang kisah di sepanjang zaman bahwa akhir dari pembangkangan terhadap hukum Tuhan adalah musibah.

Musibah terakhir adalah merebaknya virus korona. Virus yang sampai sekarang peredarannya masih belum dapat diputus mata rantainya, bahkan cenderung bermutasi kepada jenis virus lain. Kesemuanya mengharuskan kita anak manusia ini merenung. Apa gerangan yang terjadi dibaliknya?

Bertafakur Menyambut 2021

Ujung dari semuanya ini adalah bahwa berbagai musibah bertubi bisanya dijawab hanya dengan bahasa agama. Dengan argumentasi yang (sekali lagi) didasari keyakinan. Bahwa atas dasar keyakinan, berbagai musibah ini terjadi karena dipicu oleh ulah manusia, ya ulah kita sendiri. Ulah manusia yang jauh dari rengkuhan Rahmat Allah yang menyebabkan turunnya azab atau siksa. Itu semua terjadi karena dua akibat, yang sekaligus menjadi peringatan bagi yang mau menunduk dan merunduk, kemudian segera sadar dan bertaubat.

Batas 2020 segera berakhir, dan kita akan menapaki 2021. Kiranya semua musibah itu menjadi penyemangat, untuk kembali ke rel yang diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala. Setiap individu hendaknya berkontemplasi. Semua manusia mempunyai kenangan, tidak terkecuali kenangan atas terjadinya berbagai musibah yang muncul karena dalam bahasa manusia disebabkan fenomena alam.

Kenangan adalah sesuatu yang masih (ataupun) selalu ada di dalam ingatan dan pikiran, dari episode perjalanan hidup. Bisa manis bisa pahit atau getir. Potongan episode kehidupan itu muncul dari sesuatu yang terjadi pada masa lalu. Jelasnya, apakah itu sebuah kisah, kejadian maupun sesuatu yang pernah dijalani dan dialami oleh seseorang manusia yang masih punya jiwa dan perasaan atau yang melewatkan begitu saja setiap peristiwa, khususnya yang berasa pahit dan berwarna kelam. Pada hakikatnya, setiap kenangan akan membuat diri seseorang mengingat suatu yang ia alami. Hal itu menjadi pelajaran sangat berharga, kalau saja pada manajemen kehidupannya mencatat dan menjadikan sebagai tarikan makna.

Kejadian yang substansinya senantiasa diingat sebagai pembelajaran, yang akan berakibat bahagia atau sengsara. Kesemuanya tergantung bagaimana cara mengapresiasinya. Rasa dari sebuah kenangan berupa musibah, bukan hanya terjadi pada seseorang yang kondisi fisik dan psikologinya sehat, yang berarti membawa makna positif. Namun, manakala orang yang mengenang sejarah itu didasari oleh gangguan kejiwaannya, maka kenangan kehidupan berubah getir. Pahit getir atau manis, semuanya tergantung pada bagaimana menyikapi atau membuat perspektif terhadapnya.

Namun demikian, secara umum bahwa setiap insan pasti ingin selalu hanya mengingat suatu kenangan yang terindah dalam hidupnya. Merefleksikan angan khayalnya dengan mencoba melupakan dan berupaya menghapus kenangan buruk yang selalu menghantui pikirannya untuk melangkah maju, meniti, dan merajut kehidupan penuh makna.

Untuk mengenang tahun 2020 dan menapaki tahun 2021, hendaknya kenangan musibah itu menjadi titik balik penyadaran. Memang dipahami bahwa kenangan yang terjadi dalam hidup setiap manusia seolah bagaikan debu di padang pasir yang tertiup angin. Terkadang sebuah kenangan bisa dan dapat merubah jalan hidup seseorang itu di masa depan. Oleh karena itu, hakikat sebuah kenangan yang timbul dalam ingatan pasti akan senantiasa kembali, manakala peristiwa yang sejenis itu terulang.

Kita segera berada pada tahun yang baru. Tahun yang akan senantiasa berulang dalam pusaran 365 hari yang akan terjalani. Sembari mengenang masa lalu, khususnya yang berupa musibah begitu berat, hendaknya berorientasi pada kehidupan ke depan dengan harapan perjalanan hidup lebih lempang. Musibah ini segera berakhir, tak lagi terjadi, dan senantiasa menjaga kehidupan senantiasa dalam bingkai ajaran agama yang lurus. Selamat Tahun Baru 2021! ***

* Penulis adalah Notaris, Pengurus Pusat Ikanot (Ikatan Notaris) Universitas Diponegoro, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Habaring Hurung Sampit Kalimantan Tengah