Oleh : Dr. H. Joni, SH., MH*

Tagar ‘Indonesia Terserah’, mendadak viral ditengah pandemi Covid-19, khususnya di kalangan medis di beberapa daerah di Tanah Air. Bergambar seseorang mengenakan kostum paramedis lengkap dengan alat pelindung diri (APD) sontak menarik perhatian berbagai kalangan.

Di satu sisi, tagar ini melukiskan rasa keputusasaan, khususnya dari tenaga medis. Di sisi lain, seolah mewakili apa yang sedang terjadi seiring dengan perkembangan mutakhir penanganan pandemi virus korona.

Dengan kata lain, tidak saja mewakili tenaga medis, baik dokter, perawat maupun komponen lain, tetapi dirasakan oleh banyak rakyat Indonesia. Menggambarkan keputusasaan, yang tercermin dari buruknya penanganan terhadap para penderita, atau orang yang datang ke rumah sakit. Buruk bukan berarti pelayanan yang tidak baik atau tidak maksimal. Buruk karena tidak sebanding antara jumlah tenaga medis dan kapasitas rumah sakit dibandingkan dengan pasien yang terus membanjir.

Kebijakan pemerintah

Kemunculan tagar ‘Indonesia Terserah!’, diawali adanya kerumunan saat penutupan McDonald Sarinah, hingga adanya keramaian di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Jumat, 15 Mei 2020, lalu. Berikutnya virus ini begitu cepat menyebar di seantero Tanah Air karena dipicu oleh berbagai peristiwa yang bersumber pada kebijakan pemerintah yang melonggarkan aturan tentang PSBB.

Tagar ‘Indonesia Terserah!’ yang viral akhir-akhir ini

Memang bukan hanya kedua peristiwa itu saja, tapi respon dari para petugas medis atas sikap masyarakat yang dinilai cenderung abai dengan penyebaran wabah virus korona juga menjadi pemicu yang lain. Sebagai semacam permakluman, dimana pada satu sisi masyarakat sudah jenuh ketika mesti berdiam diri di rumah saja. Di sisi lain, solusi yang diambil justru mendatangkan malapetaka yaitu, semakin sulitnya korona dikendalikan. Namun yang disayangkan, pemerintah justru memfasilitasi atau melonggarkan aturan dan pengawasannya.

Ironisnya, pada sisi lain fakta menunjukkan bahwa para petugas medis masih terus berkutat untuk menangani pandemi ini, dengan segala duka yang ada. Mereka bekerja sekuat tenaga menangani pasien, sampai hanya dapat beristirahat beberapa saat, dan tidak sempat pulang, sekadar menjenguk keluarga. Intinya, mencerminkan perjuangan yang begitu berat. Selama ini terpola bahwa kesemuanya itu dilakukan adalah sebagai kewajiban mereka. Masyarakat lupa bahwa namanya kewajiban tentu ada batasnya.

Batas dimaksud khususnya berkaitan dengan respon masyarakat terhadap kinerja mereka, yang cenderung dilupakan atau diabaikan. Ketika masyarakat tidak disiplin, bukan tidak mungkin perjuangan para tenaga medis semakin panjang dan sia-sia. Beban sebagai kewajiban yang memang harus ada batasnya ini begitu meresahkan. Keresahan inilah yang diungkapkan dengan “Indonesia Terserah!”

Perang semesta

Melawan pandemi ini sejatinya bukan perang biasa. Bisa disebut sebagai perang semesta. Bahkan dengan lawan yang tidak terlihat, dan karena itu berbagai kalkulasi harus diperhitungkan sangat hati-hati, cermat, dan disadari penuh risiko.

Wabah ini menjadi musuh bersama yang harus segera dikalahkan, bukan hanya domain para tenaga kesehatan belaka. Mereka begitu bersungguh-sungguh, mengabdikan diri untuk segera musnahnya virus ini. Namun di sisi lain, ternyata sikap masyarakat yang cenderung abai serta membiarkan virus ini berkembang. Terbukti dengan perilaku masyarakat yang sangat sulit diajak mengendalikan diri.

Untuk menyiasatinya dalam jangka pendek, yaitu, melakukan karantina dan isolasi mandiri bisa jadi solusi guna memperlambat penularan. Jadi, berdiam diri di rumah itu bukan sekadar formalistik, melainkan kedisiplinan untuk menjaga kesehatan bersama. Perang kali ini seharusnya menempatkan publik sebagai elemen paling penting untuk berdisiplin menjaga kesehatan bersama. Edukasi penting dalam membangun kesadaran masyarakat menjadi bagian terpenting dalam upaya secara bersama memerangi virus korona ini.

Merebaknya virus korona ini menampakkan karakter sosial dari kelompok masyarakat. Hal ini menjadi pembelajaran penting. Agar tidak menyinggung, tidak perlu menyebut kelompok masyarakat dimaksud, misal ada yang berorientasi materialistis dengan tetap memusatkan perhatian dan berkonsentrasi sepenuhnya pada pelaksanaan transaksi berdasar hukum pasar. Masalah korona adalah urusan sakit, dan itu sepenuhnya domain yang Maha Kuasa. Artinya, kalau mau terserang dan akhirnya meninggal itu sudah suratan.

Kelompok masyarakat ini dalam dimensi ketaatan hukum sangat rendah. Petugas yang berada di lapangan, yaitu lalulintas fisik kewalahan menghadapinya dan kemudian menemukan tempat yang cocok untuk menggambarkan perasan mereka ini dengan tagar ‘Indonesia Terserah!’

Hal yang sama juga dirasakan oleh petugas medis. Mereka justru banyak yang menjadi korban sampai meninggal dunia karena kelelahan, sehingga daya tahan tubuh menjadi drop serta beralih dari petugas yang merawat menjadi pasien yang dirawat. Sementara memang ada yang berdisiplin dengan protokol kesehatan ketika menghadapi virus korona. Kelompok ini secara umum mewakili kawasan yang mula-mula ditetapkan sebagai zona merah dan berubah menjadi zona hijau.

Kendatipun demikian, mereka ini juga masih tetap konsisten untuk tetap menjaga, sampai kemudian pemerintah nantinya menetapkan bebas korona bagi seluruh kawasan di Tanah Air. Selama masih belum ada ketetapan, mereka ini tetap menjaga dan melaksanakan protokol kesehatan dimaksud.

Menghadapi kondisi ketidakpedulian masyarakat ini, seharusnya petugas di lapangan yang berhubungan dengan pengawasan lalulintas fisik bertindak lebih keras. Jangan sampai tagar ‘Indonesia Terserah!’ yang mewakili khususnya tenaga medis ini berlanjut. Benar-benar sangat membahayakan, jika tagar semacam ini meluas, khususnya pada kawasan yang masih merah membara. Kawasan ini tanpa dipublikasikan tetapi dapat diikuti melalui media sosial penderitanya cenderung masih terus bertambah.

Mengharapkan kedisiplinan masyarakat, sepertinya sia-sia. Membiarkan dengan menuruti tagar ‘Indonesia Terserah!’ tentu bukan solusi. Oleh karena itu, harus ada pilihan yang secara konsisten ditegakkan yaitu, lebih keras untuk menindak para pelanggar protokol kesehatan dengan segala konsekuensinya. ***

* Penulis adalah Notaris dan Pengurus Ikatan Notaris Undip Pusat