Lokasi pembantaian 4 warga asal Toraja di Poso

Poso, innews.co.id – Puluhan warga Poso, Sulawesi Tengah, yang tergabung dalam Perwakilan Masyarakat Kampai Tampo Lore, menggunakan pakaian hitam dengan ikat kepala pita merah putih sebagai tanda berkabung, mendatangi DPRD Poso guna menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berisi ungkapan kekecewaan dan aspirasi.

Warga mengaku kecewa terhadap ketidakmampuan polisi menangkap jaringan teroris MTI pimpinan Ali Kora sehingga teror masih berlangsung dan mendera warga sipil hingga kini.

Kedatangan mereka diterima langsung oleh Ketua DPRD Poso, Sesi Kd Mapeda bersama sejumlah anggota DPRD lainnya. Ketua dan Anggota DPRD pun ikut menggunakan ikat kepala pita merah putih. Ikat kepala merah putih digunakan sebagai simbol belasungkawa atas tewasnya empat orang warga Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur pada Selasa, 11 Mei lalu.

Dihadapan para anggota DPRD Poso, Ketua Perwakilan Warga Kecamatan Lore, Sahir Sampeali membacakan surat terbuka kepada Presiden Jokowi. Sahir mengatakan selama 22 tahun lamanya masyarakat Poso melalui masa suram. Mereka merasa kehilangan rasa aman karena tidak maksimalnya perlindungan negara terhadap masyarakat Poso.

Dalam surat terbuka yang dibacakan Sahir, warga Poso meminta agar Presiden Jokowi segera turun tangan dan hadir ke Poso, agar penuntasan sisa kelompok DPO teroris pimpinan Ali Kalora bisa segera berakhir.

Berikut beberapa poin tuntutan surat terbuka warga Poso kepada Presiden Jokowi:

1. Meminta presiden untuk hadir di Tanah Poso sebagai konsekuensi perlindungan warga Poso.

2. Meminta presiden sebagai panglima tertinggi untuk segera menuntaskan masalah keamanan

3. Meminta presiden untuk memberikan jaminan sosial dan santunan duka kepada para keluarga korban tragedi kemanusiaan oleh teroris di Poso.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan penyerahan dokumentasi lampiran surat terbuka dari perwakilan warga Lore ke DPRD Poso, yang diterima langsung oleh Ketua DPRD Poso. (IN)