Kementerian Perdagangan siapkan stok minyak goreng di Nataru

Jakarta, innews.co.id – Melonjaknya harga minyak goreng akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat. Kementerian Perdagangan langsung bergerak dengan menggelontorkan 11 juta liter minyak goreng yang akan didistribusikan kepada 45.000 gerai di seluruh Indonesia.

“Kemendag melalui Dirjen Perdagangan Dalam Negeri sudah mengimbau kepada asosiasi produsen minyak goreng untuk memberikan harga yang khusus. Mereka sudah setuju dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk mendistribusikan 11 juta liter minyak goreng kemasan sederhana,” ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (16/11/2021).

Saat ini, kata Lutfi, pihaknya tengah menyiapkan segala urusan untuk mempercepat eksekusi pendistribusian minyak goreng kemasan tersebut agar masyarakat bisa segera memperolehnya. “11 juta liter sudah digelontorkan, sekarang dalam masa pengiriman. Mudah-mudahan awal minggu depan sudah sampai ke seluruh Indonesia,” jelasnya.

Untuk harga minyak goreng kemasan sederhana, sambung Lutfi, nantinya akan dibanderol Rp14.000 per liter. Namun, penjualannya terbatas, yakni hanya satu kemasan per hari untuk satu orang.

Tak hanya itu, saat ini Kemendag tengah berupaya menjaga pasokan dan harga minyak goreng di dalam negeri, terutama menghadapi Hari Raya Natal dan Tahun Baru.

“Kami meminta, baik asosiasi maupun produsen minyak goreng sawit untuk tetap memproduksi minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan sederhana untuk menjaga pasokan di dalam negeri dengan harga terjangkau minimal hingga menjelang Natal dan Tahun Baru 2022. Kami juga terus memantau pendistribusiannya dengan menggandeng asosiasi ritel modern agar minyak goreng kemasan sederhana mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat,” ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan dalam keterangan tertulis, Selasa (16/11/2021).

Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng dalam negeri lebih dipicu turunnya panen sawit pada semester kedua sehingga suplai CPO menjadi terbatas dan menyebabkan gangguan pada rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng. Selain itu, adanya kenaikan permintaan CPO  untuk pemenuhan industri biodiesel seiring dengan penerapan kebijakan B30.

Penyebab lain, terangnya, krisis energi di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Serta gangguan logistik selama pandemi covid-19 seperti  berkurangnya jumlah kontainer dan kapal. (RN)