Pascalis da Cunha, SH., Koordinator Front BETA, advokat dan penggiat anti-korupsi

Jakarta, innews.co.id – Polemik yang terjadi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menjadi viral akhir-akhir ini terasa aneh dan menggelikan. Dalam dunia kerja, seseorang harus mengikuti tes. Soal gagal atau berhasil itu hal biasa. Lucunya, mereka yang gagal dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), justru mempolemikkan kegagalannya dengan membangun narasi-narasi yang aneh.

Hal ini secara lugas dikatakan Pascalis da Cunha, SH., Koordinator Front Bela Tanah Air (Front Beta) dalam rilisnya kepada innews, Selasa (1/6/2021). “Dalam sebuah tes, tentu ada skor yang harus dicapai oleh peserta. Kalau seseorang tidak bisa mencapai skor tersebut, ya sudah pasti tidak lulus,” ujar Pascalis.

Menurutnya, itu yang terjadi pada kawan-kawan di KPK. “Kawan-kawan ini memiliki skor dibawah standar kelulusan alias bernilai merah. Kalau tidak lolos artinya tidak bisa memenuhi kriteria,” tandas Pascalis yang juga dikenal sebagai advokat dan penggiat anti-korupsi ini.

Dikatakannya, kalau memang tidak lolos kenapa harus marah. “Mengapa harus marah dengan perolehan nilai/skor yang rendah itu? Ya, risikonya tidak diterima,” tegasnya lagi.

Anehnya, mereka yang tidak lolos itu, malah membangun narasi-narasi yang menggiring seolah mereka dicap khilafah, tidak Pancasilais, atau apa pun predikatnya sebagaimana yang banyak kita dengar dan baca melalui media elektronik atau pun cetak.

Pascalis meyakini, Novel Baswedan cs sejak awal pasti sudah tahu bahwa para pegawai KPK yang awalnya para pegawai dengan status profesional akan beralih status menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Secara umum, sambungnya, untuk beralih status PNS tentulah harus memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku sebagaimana UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang pastinya Novel cs juga sudah mengetahuinya.

“Untuk menjadi PNS, seseorang perlu mengikuti paling kurang tiga macam tes, yaitu, Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Inteligensi Umum (TIU), dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Karena ketiga macam tes ini adalah tes akademik, maka memiliki skor untuk mencapai kelulusan,” terangnya.

Karenanya, mereka perlu mempersiapkan diri secara maksimal untuk memenuhi syarat dan ketentuan menjadi PNS tersebut, terkecuali kalau sejak awal mereka memang punya skenario lain.

Ditambahkannya, biasanya tes-tes tersebut dilaksanakan oleh pihak ketiga. Jadi aneh kalau Novel cs malah menyalahkan pemerintah atau pihak-pihak yang tidak mendukungnya karena memang dia jelas-jelas tidak lulus.

“Stop membangun opini/narasi yang telah keluar dari substansi yang sebenarnya, yaitu memang kalian tidak lolos tes,” anjur Pascalis.

Lebih menggelikan lagi, mereka yang tidak lolos TWK berapriori dan membangun opini seolah-olah karena dengan ketidakadanya mereka, nanti kerja KPK tidak akan maksimal. Seolah nanti tidak akan ada lagi penyidik baru di KPK yang mampu melanjutkan pekerjaan penyidikan yang sudah mereka rintis lebih dahulu. “Gagal tes itu hal biasa, tak perlu kasak-kusuk, mencari simpatik sana-sini untuk pembenaran. Terkecuali memang ada agenda-agenda lain yang tengah dibangun oleh mereka,” pungkas Pascalis. (RN)