Catur Susanto, Kepala Pusat Data Kementerian Koperasi dan UKM RI

Oleh : Catur Susanto*

Berdasarkan konsep baru dalam dunia bisnis, tujuan utama dari sebuah perusahaan adalah untuk menciptakan nilai atau value, dan tugas mendasar dari manajemen usaha adalah untuk menciptakan keunggulan bersaing perusahaan (Balanescu & Bratianu; 2008).

Dalam menciptakan daya saing serta nilai-nilai sosial, perusahaan harus memiliki nilai perusahaan yang jelas dan kuat. Nilai merupakan adalah hal yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan. Berbagai hal kepercayaan dan nilai yang menjadi kerangka dan ideologi dan filosofi perusahaan dapat menjadi arahan dan cara untuk menghadapi situasi ketidakpastian atau masa-masa sulit (Schein, 2014).

Semua nilai individu karyawan terintegrasi menjadi satu menjadi budaya pada level organisasi. Dengan demikian, tata nilai perusahaan sangat strategis bagi peningkatan kinerja perusahaan. Nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun. Kegiatan tersebut adalah sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan kondisi eksisting saat ini.

Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat.

Nilai perusahaan (corporate value) adalah nilai-nilai dalam perusahaan yang dapat memotivasi karyawan guna mencapai tujuan perusahan. Nilai perusahaan dapat dilihat dari visi misi perusahaan dan pencapaiannya atas visi misi tersebut. Nilai perusahaan dirumuskan oleh manajemen tingkat atas dan dirancang untuk mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan. Nilai perusahaan merupakan tanggung jawab perusahaan dalam menciptakan kepuasan pelanggan atau klien, kualitas dan keunggulan mutu, pengembalian aset, penggunaan teknologi untuk penguasaan pasar, dan corporate citizenship. Hal ini berarti bahwa nilai perusahaan berkaitan erat dengan pemberdayaan karyawan dalam suatu perusahaan. Semakin kuat nilai korporat, maka semakin besar dorongan para karyawan untuk maju bersama dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, pengenalan, penciptaan, dan pengembangan nilai-nilai korporat dalam suatu perusahaan mutlak diperlukan dalam rangka membangun perusahaan yang efektif dan efisien sesuai dengan visi dan misi yang hendak dicapai.

Nilai perusahaan juga berhubungan dengan budaya organisasi. Nilai-nilai korporat sangat berkaitan dengan tujuan perusahaan. Oleh karena itu para karyawan perlu memahami tujuan perusahaan tersebut, sehingga akan terbentuk iklim perusahaan yang kondusif. Dampak dari nilai korporat yang membudaya di lingkungan organisasi akan memotivasi karyawan yang biasanya mereka akan berusaha secara maksimal untuk melaksanakan pekerjaan mereka dengan dedikasi dan semangat yang tinggi.

Nilai-nilai yang saling berinteraksi dalam perusahaan akan mengakibatkan terbentuknya budaya organisasi. Dalam konteks demikian, tata nilai perusahaan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak bagi peningkatan kinerja usaha.

Pengukuran kinerja adalah penilaian proses kemajuan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Pengukuran kinerja membantu organisasi untuk merefleksikan upaya yang telah dilakukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pengukuran kinerja juga mampu membantu organisasi dalam pembelajaran untuk memahami masyarakat yang dilayani sebagai manifestasi efektifitas organisasi. Mahmudi (2005) menyatakan bahwa kinerja merupakan suatu konstruk yang bersifat multidimensional, pengukurannya juga bervariasi tergantung pada kompleksitas faktor-faktor yang membentuk kinerja. Umumnya, faktor yang mempengaruhi kinerja adalah: (i) faktor personal/individu yang meliputi: pengetahuan, keterampilan/skill, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu; (ii) faktor kepemimpinan yang meliputi kualitas dalam memberikan dorongan, semangat, arahan dan dukungan yang diberikan manajer dan team leader; (iii) sistem yang meliputi sistem kerja, fasilitas terhadap sesama anggota tim, kekompakan dan keeratan anggota tim; (iv) faktor sistem yang meliputi sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja organisasi; dan (v) faktor kontekstual (situasional) yang meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.

Selanjutnya, untuk menilai kinerja organisasi ini tentu saja diperlukan indikator atau kriteria untuk mengukurnya secara jelas. Oleh karena itu, indikator kinerja itu sendiri adalah ukuran kuantitatif ataupun kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.

Sementara menurut Lohman (2003), indikator kinerja adalah suatu variabel yang digunakan untuk mengekspresikan secara kuantitatif tentang efektifitas dan efisiensi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Tanpa indikator kinerja yang jelas, tidak akan ada pedoman penilaian tentang efektifitas dan efisiensi dari keputusan yang telah dijalankan. Suatu perusahaan atau organisasi mutlak mempunyai visi (vision) dan misi (mission), karena keduanya akan berimplikasi kepada kinerja yang akan tercipta pada level organisasi (Williams, 2002).

Visi menunjukan apa yang menjadi tujuan perusahaan di masa depan, visi merupakan peta jangka panjang bagi perusahaan. Suatu pernyataan visi menjelaskan apa tujuan organisasi yang diinginkan oleh para manajer masa depan dan bagaimana bentuk organisasi yang seharusnya dilaksanakan Suatu visi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan masa depan yang relatif jauh dimana bisnis telah berkembang dalam kondisi-kondisi yang terbaik dan sesuai harapan-harapan dan impian-impian organisasi, suatu visi memberikan acuan apa yang akan dicapai dalam bisnis, dan menjadi pedoman pada tingkat ambisi perencana strategik (Karlof, 2013).

Sementara pengertian misi adalah lingkup kegiatan bisnis yang dijalankan perusahaan. Sebuah misi menjawab pertanyaan seputar bisnis apa yang harus dijalankan perusahaan (Bredrup, 1995). Misi harus menggambarkan tujuan organisasi saat ini dalam arti apa yang harus dilakukan organisasi dalam jangka pendek. Pertanyaan ini harus memisahkan organisasi dari pertanyaan-pertanyaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Tsai, 2011). Dengan demikian, misi adalah karakter, identitas dan alasan keberadaan perusahaan atau organisasi. Misi (mission) dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian yang saling berhubungan, yaitu: 1. Tujuan; 2. Strategi; 3. Standarisasi perilaku dan 4. Nilai-nilai (value).

Implementasi dalam Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita, Surabaya Jawa Timur salah satunya melalui sistem tanggung renteng dapat menjadi sebuah tata nilai dan sistem untuk menjadi benchmark didalam dunia perkoperasian, khususnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Sistem tanggung renteng merupakan sistem pengelolaan anggota koperasi dalam usaha simpan pinjam.

Sistem ini diperkenalkan oleh Ibu Mursia Zaafril Ilyas yang diilhami oleh kelompok ibu-ibu arisan. Sebagai sebuah tata nilai, tanggung renteng mewujudkan saling percaya, musyawarah, kebersamaan, keterbukaan, dan tanggung jawab. Tanggung renteng mendorong lahirnya suatu sistem yang menjamin tujuan koperasi dapat tercapai secara kolektif.

Muncul pertanyaan, apa itu sistem tanggung renteng? Tanggung renteng dapat dijelaskan lewat ilustrasi dan deskripsi sebagai berikut: Sebuah koperasi yang keanggotaannya terbagi dalam beberapa kelompok. Satu kelompok misalnya terdiri dari 25 orang. Apabila salah satu anggota membutuhkan pembiayaan dan dia ingin meminjam uang dari koperasi, maka 25 orang anggota kelompok tersebut bermusyawarah secara mufakat untuk menyetujui atau menyepakati pinjaman atau tidak. Kelompok tersebut juga sekaligus menyusun formulasi aturan pengembalian, bentuk cicilan/angsuran, sanksi, dan sebagainya, termasuk manajemen risiko (risk manajemen) dan keuntungan (profit) yang ditanggung secara kolektif oleh anggota.

Nilai saling percaya dan kebersamaan akan tumbuh dan berkembang. Setiap anggota memiliki rasa empati pada anggota lain dan masyarakat sekitarnya. Pada jangka panjang akan membentuk karakter dan citra diri (personal branding) anggota koperasi, seperti saling menolong, kekeluargaan, rela berkorban, jujur, saling menghormati, bekerja sama, kesabaran, komunikatif, dan tidak egois. Karakter dan citra diri (personal branding) tersebut tidak hanya sekadar slogan/semboyan semata, namun lebih tercermin dalam cara hidup anggota koperasi di kehidupan sehari-hari. Sebagai sistem, tanggung renteng merupakan alat kontrol dan kendali terhadap berbagai dinamika internal anggota dan keuangan (layanan kredit anggota) di tingkat kelompok. Oleh karena itu, syarat mutlak/wajib bisa diberlakukannya tanggung renteng adalah adanya pengelompokkan anggota. Partisipasi aktif anggota merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan dan perkembangan usaha koperasi.

Fakta empiris, sistem tanggung renteng akan berimplikasi terciptanya lingkungan kerja yang kondusif bagi seluruh anggota untuk mewujudkan target capaian koperasi dan anggota. Sistem tersebut akan bekerja semakin maksimal apabila, 3 (tiga) kondisi berikut ini terpenuhi, yaitu:

Pertama, Kelompok. Pengelompokkan anggota dalam jumlah tertentu dapat dilakukan berdasarkan kedekatan tempat tinggal, hubungan emosional, maupun ikatan kelompok sosial. Sebagai contoh, kelompok bisa berisi anggota yang tinggal di wilayah tertentu; bisa juga karena memiliki hobi atau kegemaran yang sama; bisa juga karena afiliasi jenis kerja dan profesi.

Kedua, Kewajiban. Kewajiban di sini meliputi (1) menghadiri pertemuan kelompok, misalnya sebulan sekali; (2) membayar simpanan wajib dan simpanan lainnya yang telah ditetapkan di koperasi masing-masing; (3) membayar angsuran pinjaman; (4) mengembangkan anggota kelompok (mencari tambahan anggota baru); (5) mengadakan musyawarah; (6) mentaati segala peraturan yang meliputi: AD/ART dan peraturan yang lainnya; serta (7) menjaga kelangsungan hidup dan nama baik kelompok dengan melaksanakan administrasi secara tertib dan mengadakan koordinasi kelompok.

Ketiga, Peraturan. Peraturan merupakan kesepakatan tertulis yang harus disepakati dan dijalankan oleh semua pihak. Pada akhirnya, apabila sistem tanggung renteng diimplemetasikan secara benar, maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandasi kesadaran terhadap tata nilai perusahaan (corporate value) koperasi menggunakan tools tanggung renteng yaitu kebersamaan, keterbukaan, saling percaya, musyawarah, disiplin dan tanggung jawab. Hal inilah yang menjadi modal bagi koperasi untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha.

* Penulis adalah Kepala Pusat Data Kementerian Koperasi dan UKM RI