Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) relawan Presiden Jokowi pada Pilpres lalu, kritik tajam demo-demo yang mengandung unsur kebencian dan penghinaan terhadap Pemimpin Negara

Jakarta, innews.co.id – Sejatinya demo adalah aksi menyampaikan pendapat secara kritis tentang hal-hal yang dianggap kurang pas di dalam masyarakat. Demonstrasi hakikatnya mengkritisi kebijakan secara baik. Tapi apa daya, akhir-akhir ini acap kali ditemukan aksi demo yang mengandung kebencian, kekejian, bahkan berujung anarkhi.

“Demonstrasi akhir-akhir ini semata hanya untuk koar-koar oknum dengan segala kata-kata kotor dan kekejian serta merendahkan harkat dan martabat Pemimpin Bangsa,” kata Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) relawan Presiden Jokowi pada Pilpres lalu, kepada innews, Kamis (17/11/2022).

Putri menjabarkan, aksi demo yang dilakukan kelompok yang menamakan diri 212 dan 411 itu sangat tidak elok dan penuh dengan aura kebencian. “Suatu pemikiran yang salah kaprah. Kebebasan demokrasi itu bukan hanya untuk diri sendiri, bung! Dalam demokrasi, orang lain pun memiliki hak yang sama. Hak untuk merasa aman dan nyaman tinggal di negara ini,” urainya.

Selama ini, lanjutnya, masyarakat Jakarta pada umumnya merasa sangat terganggu oleh demo-demo yang mereka adakan tanpa jemu. Anak-anak sekolah terganggu, orangtua merasa cemas, para pelaku ekonomi terhambat bekerja. Belum lagi betapa repotnya aparat keamanan bekerja mengamankan Ibu Kota. Demo itu juga melibatkan anak-anak kecil dan kaum perempuan.

“Dalam demo-demo yang mereka rancang melekat sikap anarkhis dan cenderung sangat merugikan banyak orang. Apakah para pelaku demo itu memikirkan kepentingan orang lain? Gerakan mereka ini bersembunyi dibalik kata-kata demokrasi, menuntut kebebasan berbicara dan berekspresi, tapi realitas yang terjadi justru sebaliknya,” imbuh Putri.

Dirinya juga mengkritisi rumor akan ada lagi aksi demo 212 yang akan diadakan 2 Desember ini. Melalui media sosial, Abdullah Hehamahua melontarkan rencana demo ke Istana Negara, Jakarta, dengan label ‘212’ dan katanya akan mengerahkan 500.000 orang. Di video yang terunggah itu Abdullah menyatakan, siap mati! Entah apa maksudnya. “Suatu pernyataan suci. Semoga Tuhan Allah mendengar serta mengabulkan doa ini,” celetuk Putri.

Dengan kritis Putri mengatakan, selama ini yang dipertontonkan dalam demo adalah menghina-hina Presiden Jokowi. Para peserta demo menyerukan agar Presiden mundur. Padahal, jelas-jelas Presiden Jokowi menyatakan bahwa dirinya siap dikritik dan dikoreksi. “Saya melihat pengabdian Pak Jokowi selama memimpin bangsa ini begitu luar biasa. Upaya yang beliau lakukan untuk melakukan pemerataan pembangunan dan ekonomi sangat mengemuka. Bahkan bisa dikatakan Pak Jokowi adalah Presiden yang paling berprestasi di sepanjang sejarah Indonesia. Presiden yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kepentingan bangsa dan negara,” urai Putri.

Dengan lugas Putri mengatakan, selama ini apa yang ditunjukkan oleh para pendemo itu, kecuali menghina-hina Presiden Jokowi. Orasi yang disampaikan bukan kritik, tapi hinaan dan upaya menjatuhkan Presiden Jokowi. Kritik itu baiknya dilakukan berdasarkan kasih sayang dengan tujuan agar orang yang dikritik menjadi lebih baik. Selama ini Presiden Jokowi tampak diam. Tapi bukan berarti bisa seenaknya juga mereka menghina pemimpin kami.

“Berbeda dengan penghinaan seperti yang selalu mereka lakukan. Itu atas dasar kebencian dan kekejian,” tegas Putri lagi.

Dirinya teringat akan ucapan Presiden Soekarno dalam pidatonya bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah. Tapi, melihat gerombolan pendemo itu, patut dipertanyakan, “Dimana itu pujian Bung Karno kepada Bangsa Indonesia? Dimana itu keramahan Bangsa Indonesia? Atau karena mereka yang teriak-teriak itu bukan orang pribumi ya, jadi seenaknya saja menghina Pemimpin Bangsa?” cetusnya.

Putri menganalogikan, ibarat ada orang asing yang homeless (tidak punya rumah). Lalu ada orang yang baik menawarkan orang tersebut tinggal di rumahnya. Dikasih makan, pakaian, bahkan diberi pekerjaan. Setelah lama tinggal bersama, orang asing itu malah ngelunjak dan mau mengusir bapak pemilik rumah lantaran mau menguasai rumah tersebut. Pertanyaannya, bagusnya diapain orang seperti itu ya?

“Itulah gambaran gerombolan yang kerap merencanakan demo berbau fitnah terhadap Presiden Jokowi. Tidak tahu diri, sudah diberi tempat tinggal, diperbolehkan hidup dan mencari nafkah di Indonesia, sekarang Bapak pemilik rumahnya malah dihina-hina,” tandasnya.

Meski begitu Putri masih percaya Bangsa Indonesia tetap bangsa yang ramah. “Bangsa Indonesia mencintai bangsa dan negaranya. Bangsa Indonesia mencintai Kepala Negaranya, lambang negara serta mematuhi hukum negaranya,” tukasnya.

Sementara para pendemo itu adalah para pembenci negeri ini. Mereka tidak mencintai bangsa dan negara Indonesia. Terbukti, mereka menghina Kepala Negara, menghina Bendera Merah Putih dengan mengibarkan bendera yang lain. Mereka hanya mau memanfaatkan Indonesia menjadi negara seperti yang mereka mau.

“Di jaman pemerintahan sebelumnya, yang model-model begini pasti sudah tidak ada lagi jejaknya karena perbuatan mereka termasuk makar,” seru Putri.

Secara tegas Putri menolak cemooh dan hinaan para pendemo terhadap Presiden RI, pemimpin bangsa yang begitu dihormati oleh mayoritas rakyat Indonesia ini. “Kepada Bapak Presiden serta semua aparat terkait, kami ini juga rakyatmu yang memiliki hak untuk merasa aman dan nyaman tinggal di negeri warisan nenek moyang ini. Ijinkan kami menolak apabila Presiden kami dihina oleh ‘orang-orang asing’ yang tidak tahu diri itu. Kami lelah melihat mereka dibiarkan dengan tuntutan yang tidak masuk akal. Kami lelah melihat anak-anak Indonesia seolah diajar kebencian, sementara dengan susah payah kami mengajar cinta dan hormat kepada sesama. Kami hanya ingin agar bangsa ini tetap menjaga identitas sebagai bangsa yang ramah. Kami bosan dan marah terhadap demo-demo yang mereka namakan “411-212” atau sejenisnya,” ungkap Putri mengeluarkan isi hatinya. (RN)