Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perhubungan, Carmelita Hartoto

Jakarta, innews.co.id – Sektor pelayaran nasional tengah menghadapi tantangan berat seiring penyebaran virus corona yang demikian masif. Untuk itu, pemerintah diharapkan bisa memberikan stimulus bagi pelaku usaha pelayaran.

Hal ini secara terbuka disampaikan Carmelita Hartoto Ketua Umum Indonesia National Shipowners Association (INSA) dalam keterangannya, di Jakarta, akhir Maret 2020 lalu. “Salah satu tantangannya adalah penurunan volume kargo ekspor impor dari dan ke Tiongkok, mencapai 14-18 persen. Itu juga merembet ke negara tujuan lain, seperti Singapura dan Korea Selatan. Selain itu, kargo domestik terutama pada kargo penunjang ekspor impor dan distribusi nasional yang turun 5-10 persen,” terang Carmelita.

Menurutnya, tidak banyak yang bisa dilakukan, selain berharap adanya stimulus dari stakeholders untuk menjaga kinerja pelayaran nasional.

Carmelita juga memaparkan tantangan yang dihadapi operator pelayaran saat ini, dimana proses clearance di pelabuhan lebih lama karena adanya penyemprotan disinfektan kapal, pemeriksaaan kesehatan kru kapal, dan pemeriksaan riwayat perjalanan kapal. Kondisi tersebut berdampak pada penambahan biaya operasional kapal.

Selain itu, kebijakan physical distancing dan work from home berpengaruh pula terhadap kinerja instansi di darat karena banyak yang membatasi jam kerja, termasuk tenaga operasional di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, khususnya pada subdit-subdit terkait kepengurusan sertifikat kapal serta kesyahbandaran.

“Pelayaran nasional juga mengalami kendala docking kapal yang disebabkan sejumlah galangan mengurangi jumlah pekerja di lapangan untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19. Akibatnya, pekerjaan perawatan kapal-kapal yang sedang docking terkendala entah sampai kapan dan kapal lainnya harus antri lama untuk docking dalam dua bulan terakhir,” urainya.

Belum lagi sparepart kapal yang diimpor dari Tiongkok membutuhkan waktu menunggu lebih lama dan lebih mahal. Semua ini, kata Carmelita, sangat memukul sektor pelayaran nasional dan akan berdampak pada menurunnya kinerja industri terkait lainnya, seperti kinerja logistik, asuransi, galangan, industri sparepart kapal, hingga ke instansi pendidikan pelaut.

“Saat ini, perusahaan pelayaran nasional bisa bertahan dan tidak gulung tikar saja sudah sangat bagus. Kondisi saat ini benar-benar berat bagi pelayaran nasional,” tandas Carmelita.

Bentuk stimulus yang mungkin bisa dipertimbangkan seperti pemberian grace period yang panjang pembayaran pinjaman bank, reschedule atau penjadwalan kembali pembayaran pinjaman bank, dan penghapusan pajak atas bahan bakar minyak (BBM). (RN)