C. Suhadi, SH., MH., advokat senior di Ibu Kota

Jakarta, innews.co.id – Dunia kepengacaraan dihebohkan dengan munculnya istilah “Paket Hemat” dalam menangani sebuah perkara. Hal ini terjadi terutama dalam perkara-perkara perceraian. Konon kabarnya, klien cukup membayar Rp500 ribu sebagai fee bagi kuasa hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, C. Suhadi, advokat senior di Ibu Kota membenarkan adanya fenomena tersebut. “Itu bukan terjadi di daerah, tapi di Jakarta,” ungkapnya lugas.

Kondisi demikian, kata Suhadi, menjadi dilema bagi para advokat khususnya. “Memang sebagai pengacara kita juga menangani kasus-kasus yang sifatnya prodeo, tapi kalau mereka yang mampu, lantas ada yang mematok hanya Rp500 ribu untuk menangani sebuah perkara, ya saya bingung juga,” ujar Suhadi kepada innews, Rabu (16/9/2020).

Munculnya ‘Paket Hemat’ seperti ini, menurut Suhadi, merupakan gambaran betapa banyak notaris yang hidupnya susah. Padahal, dari sisi penampilan, banyak pengacara-pengacara necis dan parlente demi menunjukkan eksistensi dan menumbuhkan kepercayaan bagi klien.

“Makanya, terus terang ya, saya tidak simpatik melihat sosok Hotman Paris yang suka pamer-pamer kekayaan, meskipun itu hak dia. Karena faktanya, banyak pengacara yang hidupnya susah. Harusnya, kan bisa dibantu,” kata Suhadi lagi.

Dia menambahkan, kalau pengacara-pengacara besar, tentu sudah punya klien-klien bonafid. Tidak demikian dengan pengacara menengah kebawah. Mungkin masih kesulitan mencari klien. Sebagai sesama pengacara, kan kita bisa saling membantu. “Jangan kita syurr sendiri, sementara banyak teman-teman seprofesi yang hidupnya megap-megap,” imbuhnya.

Selain itu, Suhadi mengkritisi peran organisasi sebagai pilar pengawas advokat. “Harusnya model-model ‘paket hemat’ itu tidak perlu ada kalau organisasi kita satu. Sebab, siapa lagi yang mengangkat derajat advokat kalau bukan kita sendiri. Jangan sampai lantaran ada paket-paket murah begitu, profesi advokat jadi direndahkan,” pungkasnya. (RN)