Dr. John N. Palinggi, MM., MBA., Ketua Harian Bisma, pernah menjadi Dewan Analis Strategis Badan Intelijen Negara RI

Jakarta, innews.co.id – Banyak pihak menilai, terbunuhnya 4 anggota keluarga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bukan saja sadis, tapi juga berpotensi mengganggu toleransi di Indonesia. Tokoh nasional sekaligus Ketua Harian Bisma–wadah kerukunan umat beragama, Dr. John N. Palinggi, MM., MBA., melihatnya dari sudut pandang lain.

“Jangan langsung ditarik insiden tersebut berakibat kehidupan toleransi di Indonesia jadi terganggu. Itu adalah tindakan teror pembunuhan yang menghancurkan rasa kemanusiaan. Sebagai anak bangsa, saya sangat terenyuh mendapati hal tersebut dan turut berduka cita. Namun, kita juga harus bijak untuk membedakan antara toleransi dengan teror untuk tujuan tertentu,” kupas John yang juga dikenal sebagai pengamat sosial, politik, ekonomi, dan kemasyarakatan kepada innews, Selasa (1/12/2020).

Menurut John, kalau hal ini ditarik ke wilayah toleransi yang akan muncul adalah kecurigaan satu sama lain. “Biarkan aparat keamanan melakukan investigasi yang jelas. Beri kesempatan dan percayakan aparat TNI dan Polri melakukan tugasnya sesuai yang diperintahkan Bapak Presiden. Tapi, jangan mengkaitkan ini dengan soal kerukunan beragama. Jangan bawa-bawa agama dalam persoalan ini,” ujarnya mengingatkan.

John menambahkan, TNI-Polri memang harus bekerja keras untuk menangkap pelaku lantaran medan di Sulteng yang luas dan banyak hutan. “Pelibatan TNI dalam penanganan masalah teror ini harus ditingkatkan. Karena sesuai UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, sudah dikatakan, salah satu tugas TNI selain perang, juga memberantas dan menanggulangi teroris. Karenanya, TNI harus dilibatkan untuk mendukung Kepolisian memberantas kelompok-kelompok terorisme,” terang John.

Jadi, sesuai UU No. 34/2004, sudah jelas bahwa TNI pun bisa terlibat memberantas terorisme. Namun, kata John, entah kenapa, para politisi di negeri ini pura-pura tidak tahu, bahkan Kopassus dan pasukan elit TNI terkesan dimandulkan.

Lebih jauh John mengatakan, “Bisa jadi, perbuatan ini didalangi oleh orang-orang tertentu agar investor asing dari luar tidak masuk ke Sulawesi Tengah. Ujungnya, orang-orang itulah yang akan menguasai pengelolaan bisnis energi sumber daya mineral, minyak dan gas”.

Aksi teror ini merupakan pesan agar menimbulkan rasa takut karena tujuan antara teror adalah membuat rasa takut. “Seharusnya aparatur keamanan tidak kelelahan hanya mencari pelaku teror, tapi dalang utama pendukung dana secara konsepsional, itulah yang harus ditemukan,” ujar John yang pernah menjadi Dewan Analis Strategis Badan Intelijen Negara RI ini.

Acuan bertindak, sambung John, harus belajar dari kerusuhan Poso. Jelas bukan masalah agama, tapi upaya penguasaan lokasi tambang sumber daya mineral, minyak dan gas yang mengakibatkan ratusan orang terbunuh. “Bila cara-cara ini tidak bisa diatasi dapat mengakibatkan perpecahan atau disintegrasi dalam masyarakat yang majemuk, bahkan dalam skala besar bisa menimbulkan perpecahan wilayah,” tandasnya mengingatkan.

Dengan kata lain, sambung John, aksi teror ini merupakan upaya menciptakan instabilitas di Sulteng, dimana rencana besar pembangunan oleh pemerintah pusat untuk mendatangkan investor asing dari luar ke daerah tersebut akan terhalang. Bahkan, bila ada investor asing yang masuk akan menjadi ketakutan, lalu hengkang, dan digarap oleh orang-orang tertentu nantinya. (RN)