Deputi bidang Produksi dan Pemasaran KemenkopUKM Victoria boru Simanungkalit

Jakarta, innews.co.id – Semakin terbukanya peluang ekspor pascapandemi Covid-19, menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku UKM di Indonesia.

Menurut Deputi bidang Produksi dan Pemasaran KemenkopUKM Victoria boru Simanungkalit, untuk meningkatkan nilai ekspor ke Eropa diperlukan kerja sama dari berbagai pihak agar UKM tidak hanya sekadar dapat bertahan, tapi juga mampu meningkatkan kualitas sehingga dapat bersaing di pasar global, khususnya Eropa.

“Saat ini, ekspor produk UKM ke berbagai negara kian terbuka lebar. KemenkopUKM telah memberikan dukungan terhadap upaya peningkatan ekspor UKM seperti yang telah dilakukan UKM di Bangka Belitung yang mengekspor Lidi Nipah ke Nepal, PLB E – commerce Marunda yang mengekspor 500 produk UKM ke PLB E – Commerce Ningbo di Tiongkok, serta dukungan kepada Sekolah Ekspor di SMESCO,” jelasnya dalam Seminar Online Peluang Bisnis Pasca Covid-19, Peluang Ekspor ke Eropa, yang diinisiasi Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) DPD DIY secara daring, Selasa (22/9/2020).

Kebijakan lain yang dilakukan pemerintah melalui KemenkopUKM diantaranya fasilitasi standardisasi global, pelibatan BUMN sebagai offtaker, onboarding digitalisasi KUKM, fasilitasi promosi baik di dalam maupun luar negeri, hingga menjadikan SMESCO sebagai center of excellence.

Dijelaskannya, hingga kini terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi 97% terhadap total tenaga kerja dan 60% PDB nasional. Angka ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Namun demikian kontribusi ekspor UKM masih berkisar 14%, sehingga perlu ditingkatkan.

Data BPS tahun 2019 menyebutkan, ekspor Indonesia ke negara-negara Uni Eropa senilai US$ 14,6 milyar, masih cukup rendah jika dibandingkan dengan negara-negara APEC (US$ 122 milyar), ASEAN (US$ 41,4 milyar), dan NAFTA (US$19,6 milyar).

Ekspor Indonesia Uni Eropa terbesar ke Belanda dengan nilai US$ 3,20 milyar; Jerman US$ 2,4 milyar; Italia US$ 1,74 milyar; Spanyol US$ 1,59 milyar; Inggris US$ 1,35 milyar; Perancis US$ 1,01 milyar; dan Belgia US$ 1,07 milyar.

Sementara itu Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI)/Wakil Kepala Perwakilan RI di Brussel, Belgia, Sulaiman Syarif mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan UKM di Indonesia sebelum melakukan ekspor ke Eropa.

“UKM harus bisa menetapkan harga yang pasti, konsisten dan transparan. Juga harus memperhatikan terkait preferensi konsumen Uni Eropa untuk sustainability, fair trade, dan ethical trade,” katanya.

Selain itu, kata dia, UKM harus mampu menjaga konsistensi kualitas produk, kontinuitas volume dan produksi, serta representatif/kontak yang mudah dihubungi. (RN)