Dr. Tintin Surtini Notaris/PPAT senior di Ibu Kota

Jakarta, innews.co.id – Idul Adha atau Hari Raya Haji, sering juga disebut Hari Raya Qurban, memiliki makna yang dalam bagi segenap umat Muslim. Sebab di hari itu, umumnya disembelih sapi dan kambing, yang selanjutnya dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu.

“Idul Adha menjadi momentum bagi setiap umat Muslim untuk berbagi pada sesama melalui hewan qurban yang disembelih,” ujar Dr. Tintin Surtini Notaris/PPAT senior di Ibu Kota kepada innews, Ahad (26/7/2020).

Menurutnya, kewajiban menyembelih hewan kurban saat Idul Adha bertujuan untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu agar dapat merayakan Idul Adha bersama.

Tintin sendiri tak pernah lalai menunaikan kewajibannya tersebut yang biasa ia lakukan di kampung halamannya. Seekor sapi seberat hampir satu ton ia serahkan ke panitia Idul Adha di Kadungora, Garut, Jawa Barat.

Dia mengaku membeli sapi dari Peternakan Jenderal Gerhan di Sentul yang benar benar sehat. “Untuk pembagiannya, saya serahkan ke Masjid di kampung untuk selanjutnya dikirim ke rumah warga. Saya hanya berpesan agar pembagian dilakukan secara langsung ke warga dengan protokol kesehatan dan hindari kerumunan orang,” imbuh Tintin.

Saling berbagi, terutama di masa pandemi Covid-19 ini, menjadi kian bermakna, terutama karena banyak masyarakat yang terdampak korona. “Harus diakui, wabah Covid-19 ini telah membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Karena itu, justru di masa sulit inilah, sekiranya mampu kita ringankan tangan membantu mereka,” tutur Tintin.

Sapi qurban dari Dr. Tintin Surtini Notaris/PPAT senior di Ibu Kota, yang akan diberikan ke salah satu Masjid di Kadungora, Garut, Jawa Barat

Tidak hanya qurban sapi, Tintin juga menyiapkan paket sembako untuk dibagikan kepada masyarakat di daerahnya. Bahkan, secara rutin, Tintin membagikan paket nasi lengkap kepada masyarakat.

Kebiasaan berbagi sejatinya telah dilakoni Tintin sejak 1995. Bahkan secara bergilir, ia juga telah memberangkatkan perangkat desa, warga, karyawan kantornya dan rekan-rekan suaminya. Ia ibarat kacang yang tak lupa akan kulitnya, selalu memperhatikan kampung halamannya dan orang-orang di sekitarnya.

Masih membekas dalam hatinya kehidupannya dulu di kampung sebagai buruh tani dan menjual kayu bakar sampai ke Jakarta. Hasratnya yang kuat untuk merubah nasib, mendorongnya nekat hijrah ke Jakarta, tanpa modal, sekitar tahun 1973. Alhasil, sesampai di Jakarta ia harus tidur di Masjid Al-Azhar. Sehari-hari ia nyaris puasa dan hanya minum air kran karena tak ada uang untuk membeli makanan. Namun, perlahan nasibnya berubah, sampai akhirnya Allah SWT membawanya meraih kesuksesan hidup seperti yang ia rasakan sekarang.

“Saya bersyukur untuk rezeki yang Allah berikan. Karena itu, saya juga tidak lupa untuk berbagi. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan kita. Bila kita mampu, ayo sama-sama berbagi,” pungkasnya. (RN)