Dr. Tintin Surtini, SH., MH., M.Kn., Notaris dan PPAT senior di Ibu Kota

Jakarta, innews.co.id – Notaris memiliki peran besar dalam memaksimalkan pendapatan negara. Di sisi lain, PPAT pun memiliki peran sentral dalam mengkonstantir akta-akta pertanahan. Dalam UU Cipta Kerja (omnibus law), salah satu tujuannya adalah bagaimana menarik investasi melalui pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya. Dalam investasi, peran notaris sangatlah besar.

Hal ini secara lugas dikatakan Dr. Tintin Surtini, SH., MH., M.Kn., Notaris/PPAT senior di Ibu Kota kepada innews, Senin (12/10/2020). “Keluarnya UU Cipta Kerja harus benar-benar dicermati oleh para Notaris/PPAT. Harus dipelajari secara seksama. Sebab, bukan tidak mungkin ada celah-celah yang membuat Notaris/PPAT terjerembab pada perkara hukum,” kata Tintin mengingatkan.

Meski saat ini UU Cipta Kerja melahirkan gejolak politik di negeri ini, namun bila nanti disahkan oleh Presiden RI akan tetap diberlakukan.

Memang yang jadi pedoman bagi para Notaris adalah UU Jabatan Notaris No. 30 Tahun 2004, yang usianya sudah 16 tahun. Namun, itu saja tidaklah cukup. Menurutnya, antara satu regulasi dengan yang lainnya saling kait mengkait. Karenanya, para notaris pun harus mau mempelajari berbagai produk hukum yang ada.

Karena itu, Tintin menegaskan, dalam membuat akta, harus benar-benar diteliti. Sebab faktanya, banyak notaris terseret pada sebuah perkara hanya karena kekurang hati-hatian. “Betul kita percaya pada karyawan, tapi ada baiknya setiap akta itu diperiksa atau dibaca kembali dengan teliti,” ujar Tintin yang juga dikenal sebagai dosen di universitas swasta ini.

Dia menambahkan dengan adanya UU Cipta Kerja, maka kerja Notaris harus lebih hati-hati. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, Notaris harus ekstra waspada. Tintin meyakini peran Notaris akan sangat besar terkait investasi dan lapangan kerja. “Jangan sampai tergelincir, harus lebih mawas diri,” tukasnya. (RN)