Kesaksian WNI yang tinggal di Ukraina terkait kebohongan berita-berita tentang Ukrania yang disajikan Rusia selama ini

Jakarta, innews.co.id – Ternyata selama ini masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia, telah disuguhkan banyak berita bohong terkait Ukraina yang disebarkan oleh Rusia.

Fakta tersebut mencuat dari kesaksian sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Ukraina. Pepi Aprianti Utami, WNI yang tinggal di Kyiv mengatakan, sejak 2014 dirinya mendengar pemberitaan media Rusia tentang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintah Ukraina.

“Saya melihat dan menonton berita Rusia itu seperti bukan hidup di dunia yang sama. Mereka memberitahukan segala hal 180 derajat, itu yang tidak sama dengan kejadian di Ukraina,” tuturnya dalam siaran langsung Kopi Timur yang digelar Rakyat Merdeka Online (RMOL), Kamis (14/4/2022) lalu.

Menurutnya, Pemerintah Rusia menyebarkan propaganda ini itu, sehingga dirinya sangat meragukan informasi yang mereka siarkan. Karena apapun yang dilaporkan media Rusia selalu berbanding terbalik dengan fakta yang sebenarnya.

Hal senada dinyatakan Rini Ambarwati, WNI yang tinggal di Lviv. Dia mengatakan, dirinya merasa sakit hati karena sebagai warga yang tinggal di Ukraina dia menjadi saksi penderitaan masyarakat akibat invasi Rusia.

“Sejujurnya, saya sakit hati. Karena sebagai warga yang tinggal di sini saya yang merasakan dan yang menderita. Nah, ketika melihat pemberitaan di media (Rusia), saya jadi sakit hati. Tadinya, saya sempat berpikir Rusia sebaik yang diberitakan oleh media-media di Indonesia,” ungkapnya.

Rini ingin rekan-rekan di Indonesia berpikir secara logika tentang invasi Rusia terhadap Ukraina. Jangan selalu menyinggung agama contohnya menyamakan Ukraina dengan Palestina. Ini Ukraina yang dijajah sama Rusia.

Dalam kesempatan yang sama, Maysaroh alias Maya, WNI yang tinggal di Odessa melihat pemberitaan di Indonesia tentang penjajahan Rusia terhadap Ukraina cenderung menonjolkan sisi Rusia.

“Mereka (media Indonesia) gemar menggunakan diksi ‘ura-ura’. Mereka tidak tahu apa itu ura-ura. Mereka harusnya tahu, kalau ura-ura bagi masyarakat yang yang tinggal di sini adalah ancaman yang mencekam. Nyawa kami terancam,” paparnya.

Senada dengan Maya, Prihatini alias Titin, WNI yang tinggal di Mykolaiv menyatakan kesedihannya setiap kali media di Indonesia justru mengglorifikasi jargon ura-ura yang mengancam jiwa warga Ukraina.

“Perasaan saya sedih banget karena aku yang dari hari yang pertama lihat ‘ura-ura’ kok gini. Aku coba menjelaskan, tapi netizen Indonesia justru membully aku. Karena mereka warga Indonesia yang tinggal di Indonesia sebenarnya tidak tahu dan tidak mau tahu jargon ‘ura-ura’ tersebut,” tukasnya. (RN)