Yance Mote, tokoh muda dan pengusaha Papua, minta Pemda setempat melakukan refleksi terkait kegagalan membangun smelter di Tanah Papua

Jakarta, innews.co.id – Kegagalan membangun smelter di Tanah Papua harusnya menjadi bahan refleksi bagi para stakeholders di Bumi Cendrawasih tersebut. Ada hal-hal yang perlu segera dibenahi, sehingga ke depan smelter juga bisa dibangun di Papua.

Hal tersebut dikatakan Yance Mote tokoh muda sekaligus pengusaha di Papua. “Sejatinya, Papua memiliki segalanya, sehingga smelter tidak seharusnya dibangun jauh dari Tanah Papua. Namun, faktanya tidak demikian. Didasarkan berbagai pertimbangan, khususnya dari Pemerintah Pusat, smelter pun harus dibangun di Gresik, Jawa Timur,” kata Yance dalam keterangan resminya yang diterima innews, Minggu (17/10/2021).

Bagi Yance, sebenarnya ironis bila bahan baku ada di Papua, tapi pengolahannya harus di luar Papua.

Dia menerangkan, pembangunan smelter di Jawa Timur lebih didasarkan pada pertimbangan teknis ekonomis, didasarkan pada feasibility study. Dimana ada industri pendukung yang sudah eksis seperti pabrik pupuk untuk menyerap asam sulfat dan pabrik semen guna menyerap terak dan gypsum yang merupakan limbah atau produk sampingan smelter. Sebab, bila tidak diserap akan menimbulkan bencana lingkungan.

Selain itu, lanjutnya, di Gresik juga ada kapasitas listrik pendukung dan pelabuhan dengan kapasitas sandar 35.000 DWT. Tak hanya itu, Papua dinilai belum memiliki Kawasan Industri Terpadu sebagai salah satu alasan membangun smelter.

“Di jaman Orde Baru, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pernah ada di Biak. Begitu juga di era Presiden Jokowi dibangun KEK di Sorong. Namun, entah kenapa, sekarang lokasi tersebut malah sudah ditumbuhi rerumputan yang tinggi bak hutan,” terang Yance.

Dikatakannya, yang Papua butuhkan sekarang adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Tanpa SDM yang memadai, biarpun besok pagi ada smelter belum tentu ada orang Papua bekerja di sana. Sebab ini industri padat teknologi, bukan padat tenaga kerja. “Sebaiknya kita berdebat soal pembangunan SDM. Jangan kita selalu reaktif dan menjadi akibat dari isu yang dilontarkan orang untuk mengalihkan perhatian kita dari soal-soal yang prinsip. Mari kita kritis menilai setiap hiruk pikuk yang terjadi,” seru Yance yang juga mantan Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Papua ini.

Lebih jauh Yance mengatakan, semangat membangun SDM harus seperti semangat menyukseskan PON XX Papua. Slogan ‘Torang Bisa!’ harus menjiwai pembangunan SDM di Papua.

Yance berkeyakinan, peluang untuk membangun smelter di Papua di masa depan masih terbuka karena seluruh konsentrat belum bisa di proses di Gresik. Oleh karena itu, Papua mulai sekarang harus berjuang untuk membangun SDM.

Lebih jauh dirinya mengatakan, Pemda Papua bisa saja mendorong pembangunan Kawasan Industri Terpadu, apakah di Timika atau Mamberamo, dengan memanfaatkan sumber energi air terjun Urumuka di Timika atau air terjun Mamberamo di Papua Utara. Bisa juga memanfaatkan energi gas BP untuk membangun Kawasan Industri Terpadu Kepala Burung. “Ini semua bisa diperjuangkan secara politik. Tetapi, sekali lagi tanpa penyiapan SDM yang menguasai STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), maka apapun yang dibangun di Papua, maka orang asli Papua (OAP) akan tetap menjadi penonton,” imbuhnya.

Oleh karena itu, sambung Yance, Pemda setempat harus menjadikan isu gagalnya pembangunan smelter di Papua sebagai alasan mendesak pemerintah (daerah dan nasional) agar memprioritaskan pembangunan SDM sebagai isu politik utama. “Kalau PON XX saja bisa menghabiskan dana mencapai triliunan rupiah, kenapa untuk membangun SDM di Papua tidak bisa dialokasikan seperti itu,” pungkasnya. (RN)