Jakarta, innews.co.id – Berbagai program kerja yang tengah digarap oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI), sambil membuka peluang perluasan lini produksi bersama Pindad dan dukungan riset dari Kemendikti Saintek, merupakan sebuah upaya merapikan “dapur” industri kedirgantaraan agar makin kompak dari hulu ke hilir.
Hal tersebut dikatakan Founder Masyarakat Hukum Udara (MHU) Andre Rahadian, SH., LL.M., di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
“Tentu saja ini merupakan langkah positif, sekaligus membuat industri kedirgantaraan kita makin kompak dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Diketahui, BRIN bakal memproduksi pesawat N219 lebih banyak sesuai dengan pesanan pemerintah. Juga BRIN dan PTDI tengah mengembangkan pesawat amfibi (sea plane) N219A.
Tak cuma PTDI, BRIN juga akan bekerja sama dan berkolaborasi dengan PT Pindad memproduksi Maung.
Konsistensi
Andre yang juga praktisi hukum dari Dentons HPRP ini menambahkan, model pesawat baru yang ditargetkan bisa lepas landas dan mendarat di laut ini juga jadi angin segar, di mana menjadi produk dalam negeri yang menambah ragam teknologi buatan kita sendiri.
“Tapi tentu, yang paling kita tunggu adalah pembuktian dan konsistensi, bukan hanya desain dan rencana besar, tapi kejelasan timeline dan eksekusi yang benar-benar jalan,” ujar Vice Chairman Infrastructure Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini.
Menurutnya, jika konsolidasi riset, manufaktur, dan rekayasa industri ini bisa dijalankan dengan serius, Indonesia punya peluang mempercepat kemampuan teknologi nasional sekaligus menggerakkan ekonomi berbasis inovasi.
“Semoga saja inisiatif ini tidak berhenti sebagai proyek ambisius, tapi menjadi tonggak nyata lahirnya ekosistem kedirgantaraan Indonesia yang benar-benar bisa diandalkan,” tukasnya. (RN)












































