Jakarta, innews.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan Pemerintahan Prabowo-Gibran, sudah berjalan 11 bulan dengan berbagai dinamika.
“Program MBG harus dilanjutkan karena ini bukan saja memberi kecukupan gizi anak-anak Indonesia, tapi juga bentuk perhatian besar pemerintah terhadap masa depan negara ini,” kata Ketua Umum Seknas Indonesia Maju (IM) Monisyah, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Dikatakannya, melalui MBG, maka pemenuhan gizi anak-anak Indonesia akan lebih terjamin. Bisa dikatakan MBG merupakan bentuk misi peradaban.

Selain itu, hal tersebut merupakan upaya memperkuat ketahanan pangan. “Melalui MBG akan terbentuk rantai pasok pangan berbasis ketahanan, dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau. Ini benar-benar program yang mulia, sebagai misi peradaban Indonesia,” ujarnya.
Jadi program ini bukan sekadar memenuhi janji politik, tapi komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi bangsa. Masyarakat sipil perlu berperan aktif untuk menyukseskan MBG dan melihat dampak positifnya secara bijak.
Terkait munculnya sejumlah masalah di berbagai wilayah, Monisyah mengatakan, sebagai program yang baru tentu akan muncul kekurangan. Justru itu yang menjadi alat agar kedepan dievaluasi dan disempurnakan.
“Sangat lumrah di tingkat implementasi ada kekurangan. Bahkan, ada juga yang mungkin dibuat-buat dengan tujuan menjatuhkan marwah program ini atau permainan dari oknum-oknum tertentu. Segala sesuatu mungkin terjadi. Tentu Badan Gizi Nasional (BGN) akan terus mengevaluasinya,” tukasnya.
Seperti diketahui, MBG sebagai bentuk pemenuhan hak atas pangan (right to food), sejauh ini dilaporkan ada sekitar 5.000 kasus terpapar bakteri. Jumlah ini hanya sekitar 0,0001% dari 9.615 SPPG yang beroperasi dan 31 juta penerima manfaat program MBG.
Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan menegaskan dalam 11 bulan pelaksanaan MBG telah menjangkau hampir 30 juta penerima manfaat.
Menurutnya, program ini bukan hanya memberikan manfaat langsung bagi anak-anak dan ibu hamil, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat hingga ke tingkat desa. (RN)












































