Jakarta, innews.co.id – Membangun ‘Menara Gading’ sepertinya menjadi mimpi banyak pemimpin masa kini. Mereka terlalu merasa nyaman duduk di singgasana sehingga mengabaikan regenerasi. Orang yang demikian sejatinya hanya pemimpi, bukan pemimpin.
Dalam dunia organisasi, banyak ditemui pemimpin yang tak rela menyerahkan kursinya kepada orang lain. Dia lebih suka duduk berlama-lama, meski harus merubah aturan atau memperlama masa jabatan.
Ironisnya, kalaupun akhirnya ia rela melepas jabatannya, akan diserahkan ke keluarga atau kroninya. Sehingga organisasi yang dipimpinnya mirip kerajaan yang kepemimpinannya turun temurun.
“Harus diakui, banyak sekali pemimpin organisasi merasa nyaman ketika memimpin. Sehingga dirinya tak lagi berpikir tentang perlunya estafet kepemimpinan,” kata Dr. (c) Mohamad Ali Nurdin, SH., MH., M.Kn., Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Bandung, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Dia menilai, kalau sudah berada di zona nyaman, sesungguhnya itu merupakan tanda-tanda kehancuran bagi suatu organisasi. Karena cenderung akan defensif, bukan ofensif.
Baginya, kepemimpinan itu memiliki batas waktu. “Harus dipahami bahwa setiap masa ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada masanya. Itu melukiskan siklus kepemimpinan, regenerasi, dan relevansi kepemimpinan dengan tantangan di zamannya,” jelasnya.
Ali Nurdin bertekad memimpin Peradi Bandung cukup satu periode saja. “Saya tidak pernah berpikir memimpin Peradi Bandung sampai dua periode. Semua berjalan natural. Dan, tugas saya sekarang adalah menyiapkan kepemimpinan selanjutnya,” seru Ketua GRANAT Kota Bandung ini.
Selama memimpin Peradi Bandung, Ali Nurdin dikenal all out. Salah satunya, ia memasukkan materi tambahan yakni, Penerapan KUHP 2023, Cyber Law dan ITE, serta Manajemen Kantor Hukum berbasis 4.0., dalam Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Bandung.
“Selama memimpin saya ingin memberi kesempatan semua anggota untuk berkembang dan menunjukkan eksistensinya, terutama bagi perkembangan organisasi,” cetusnya.
Dirinya meyakini, sepanjang pemimpin meninggalkan legacy positif, maka meski sudah tidak lagi memimpin, akan tetap dihormati oleh para rekan atau junior-juniornya. “Jangan takut kehilangan rasa hormat meski tidak lagi memimpin,” imbuhnya.
Ketika disinggung soal munculnya Peradi Profesional yang baru dideklarasikan hari ini, Ali Nurdin enggan terlalu menanggapi.
“Saya juga mendengar (deklarasi) itu. Mungkin ada baiknya ditanyakan kepada para senior sebagai deklarator Peradi Profesional, kenapa sampai mereka hengkang dari Peradi Tower. Tentu mereka punya perspektif tersendiri,” ucapnya datar.
Perpecahan organisasi, lanjutnya, tidak melulu kesalahan pemimpin. Bisa jadi karena keinginan anggota agar dirinya bisa lebih berkembang lagi. (RN)














































