Jakarta, innews.co.id – Memasuki 2026, dinamika global terasa semakin kompleks. Ketegangan geopolitik, pergerakan harga emas, hingga fluktuasi komoditas menjadi sinyal bahwa dunia masih berada di fase yang belum sepenuhnya stabil.
“Harus diakui, memasuki 2026, dinamika global masih diwarnai ketegangan gepolitik dan fragmentasi ekonomi. Hal tersebut membuat arus perdagangan, investasi, dan harga komoditas bergerak lebih sensitif terhadap sentimen global,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarya, Diana Dewi, Senin (5/1/2026).
Ada sejumlah indikator yang harus dicermati antara lain: harga emas yang terus menguat yang mencerminkan meningkatnya sikap ‘safe heaven’; fluktuasi harga komoditas; tekanan inflasi global yang berpotensi mempengaruhi daya beli; dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi negara besar.
Diana mengingatkan, kondisi seperti ini mengingatkan kita untuk lebih cermat membaca arah, tanpa perlu bereaksi berlebihan.
Semua itu berdampak signifikan terhadap Indonesia. “Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tentu tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh eksternal,” ujarnya.
Founder Toko Daging Nusantara ini melihat, Indonesia memiliki pondasi domestik yang terus diperkuat, mulai dari konsumsi dalam negeri, sektor UMKM, hingga transformasi ekonomi yang bertahap.
“Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya pada faktor eksternal, tetapi juga bagaimana kita menjaga ketenangan dalam mengambil keputusan, baik sebagai individu, pelaku usaha, maupun sebagai bangsa,” imbuhnya.
Dirinya percaya, dengan sikap yang adaptif, kolaborasi yang kuat, dan fokus pada produktivitas, kita bisa tetap melangkah dengan percaya diri.
“Ketidakpastian memang tidak bisa dihindari, tetapi kesiapan dan arah yang jelas selalu bisa kita pilih,” tukasnya. (RN)












































