Jakarta, innews.co.id – Implementasi keadilan menjadi kunci meminimalkan kemiskinan dalam suatu bangsa.
Hal ini sejurus dengan pesan Nabi Kongzi, di dalam menjalankan pemerintahan haruslah berbuat adil berlandaskan kebenaran. Dengan demikian tiada persoalan kemiskinan.
“Kalau ada keadilan, tiada persoalan kemiskinan, menjadi tema yang diusung oleh Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) pada Perayaan Nasional Hari Raya Imlek 2577 Kongzili, yang jatuh pada 17 Februari 2026,” kata Ketua Umum MATAKIN, Xs. Budi S. Tanuwibowo, pada jumpa persnya, di Gedung Khonghucu, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Turut hadir pada jumpa pers tersebut para pengurus MATAKIN antara lain, Js. Dede Hasan Senjaya (Sekretaris Bidang Organisasi), Js. Pindawati (Wakil Ketua Bidang Dana), dan Suhendi (Ketua Bidang Hukum).
MATAKIN menilai, pemerintah yang adil memberlakukan kebijakan-kebijakan yang tidak menyengsarakan rakyat dan meletakkan moralitas kebenaran sebagai hukum tertingginya.
“Kebijakan yang tidak menyengsarakan akan memberikan peluang secara adil bagi rakyat untuk dapat maju dan berkembang, dan menjadikan kebenaran sebagai landasan hukum. Dengan begitu, maka kesewenang-wenangan tidak akan terjadi. Niscaya rakyat akan sejahtera dan jauh dari persoalan kemiskinan,” jelasnya.
Dikritisi pula, banyaknya pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan, malah menjadi ikon ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Juga banyak kasus yang melibatkan pejabat publik, korupsi terstruktur, penyalahgunaan kekuasaan/jabatan, pemerasan dan sebagainya.
Dirinya yakin, program-program pemerintah yang jika dijalankan dengan baik akan membawa kemaslahatan bagi masyarakat malah dijadikan ajang “proyek” demi keuntungan pribadi/kelompok saja.
“Perayaan Imlek merupakan momentum refleksi diri. Bila masih ada kekurangan, kita benahi bersama,” ujarnya.
Perayaan Imlek tahun ini juga akan menyuguhkan pertunjukan budaya opera, melengkapi atraksi barongsai yang selama ini menjadi ciri khas perayaan Imlek Nasional. (RN)











































