Linda Agum Gumelar Pendiri dan Ketua YKPI membuka acara talkshow, Kamis (14/1/2021)

Jakarta, innews.co.id – Vaksinasi Covid-19, saat ini telah bergulir, ditandai dengan disuntikkannya kepada Presiden Joko Widodo. Namun, menjadi pertanyaan besar banyak kalangan, apakah penderita penyakit penyerta (kormobid) boleh divaksin?

Guna mengetahui hal tersebut, secara khusus Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) dan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) bekerja sama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Persit Kartika Chandra Kirana (Persit KCK), Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) dan Universitas Prima Indonesia (UNPRI), didukung oleh IdsMED System Indonesia menyelenggarakan Bincang-Bincang Seputar Covid-19 (BIBIR COVID), Kamis (14/1/2021), yang dikemas dalam bentuk talkshow bertajuk “Vaksin Covid-19, Tak Kenal Maka Tak Kebal, Kormobid Bolehkah?”

Hetty Andika Perkasa Ketua Umum Persit KCK

Dimoderatori oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes, MAS., dari FKKMK UGM dan dr. Cut Aigia Wulan Safitri, tampil 3 narasumber yakni, Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD., SpMK(K) (Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman), dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI), dan dr. Jarir At Thobari, PhD (FKKMK UGM).

Secara resmi, acara dibuka oleh Linda Agum Gumelar (Pendiri dan Ketua YKPI) dan Hetty Andika Perkasa (Ketua Umum Persit KCK). Linda mengatakan, banyak orang awam mempertanyakan, apakah bisa bila seseorang menderita penyakit tertentu ikut divaksin?

Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD., SpMK(K)., Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman

“Kami para penyintas kanker payudara yang sedang dalam proses pengobatan maupun yang sudah selesai tahapan pengobatan, butuh penjelasan dan informasi yang tepat dan akurat, juga bagi para individu yang termasuk kategori individu yang mempunyai penyakit penyerta (Kormobid) tentang vaksin Covid-19 ini,” sambung Linda.

Dia menambahkan, banyak masyarakat masih bingung akan hal tersebut. Bahkan hal ini menjadi pro kontra. “Semoga dengan adanya webinar ini masyarakat mendapat jawaban yang lebih akurat dan terpercaya,” ujarnya.

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI

Linda menambahkan, selain itu pihaknya yakin bahwa pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Peran serta masyarakat/LSM/organisasi perempuan dan swasta harus turut berpartisipasi dalam upaya menekan dan memutus rantai penyebaran Covid-19 ini,” tutur Linda.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Drg. Oscar Primadi, MPH., sebagai keynote speech, menegaskan, kehadiran vaksin menandakan kesungguhan pemerintah dalam menjaga kesehatan rakyatnya agar terhindar dari virus korona.

Pada bagian lain, Ketua Umum IndoHCF, Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P., MARS., mengatakan, acara ini bertujuan menyebarluaskan informasi dan mengedukasi masyarakat.

dr. Jarir At Thobari, PhD., FKKMK UGM

Dalam paparannya, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menjelaskan, pemerintah menargetkan 181,5 juta vaksin akan masuk ke Indonesia. “Saat ini, kesiapan logistik dan tenaga kesehatan sudah mendekati 100 persen,” jelasnya.

Di tahap awal, lanjut Siti, sekitar 1,4 juta tenaga kesehatan di Januari dan Februari ini. Juga telah dilatih 31 ribu vaksinator di seluruh Indonesia dan masih akan terus ditambah.

Sementara itu, Prof. dr. Amin Soebandrio meminta bila masyarakat yang divaksin mengalami KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi), misal demam berkepanjangan untuk segera melaporkan ke dokter untuk ditindaklanjuti. Sebab, menurutnya, bisa daja terjadi co-incident saat divaksin. Misal, orang yang divaksin sedang sakit gigi, maka setelah itu jadi panas badannya.

Dua moderator Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes, MAS., dari FKKMK UGM (atas) dan dr. Cut Aigia Wulan Safitri

Selanjutnya, dr. Jarir At Thobari, PhD., menjelaskan, untuk penderita kormobid bisa saja divaksin. Namun, harus melalui pengecekan medis agar jelas. Misal, penderita kormobid yang tengah berobat jalan, mungkin saja bisa divaksin bila dinilai kondisi memungkinkan. Tapi, itu juga melihat usianya.

Akan tetapi, para narasumber sepakat, vaksin saja tidak cukup. Masyarakat harus tetap menjalankan protokol kesehatan secara disiplin. (RN)