Jakarta, innews.co.id – Ditengah kemajuan teknologi dan maraknya media sosial saat ini, seringkali kita dihebohkan dengan sesuatu yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Padahal, kehebohan tersebut belum tentu berdampak positif.
Banyak pihak merasa ketika telah muncul di media sosial, maka otomatis sudah tervalidasi.
“Media sosial memang membuat apresiasi terasa instan. Tapi sejujurnya, tidak semua hal yang penting harus terlihat dan tidak semua yang ramai selalu berdampak,” kata pengusaha nasional yang sukses, Diana Dewi, di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, saat ini lantaran terobsesi dengan validasi, kerap membuat orang sibuk untuk membuktikan sesuatu. Padahal, tidak semua hal yang penting harus terlihat. Banyak kerja yang dampaknya nyata, tapi tidak selalu hadir dalam sorotan.
Dikatakannya, kehadiran media sosial ikut merubah cara pandang manusia dalam melihat nilai. “Tanpa disadari, pencarian validasi bisa mengaburkan esensi, apakah yang kita kerjakan benar-benar memberi manfaat atau tidak,” seru Founder Toko Daging Nusantara ini.
Diana Dewi menambahkan, dalam banyak hal, ukuran paling jujur justru muncul belakangan. Ketika hasil kerja itu membantu orang lain, memperbaiki proses, atau memberi solusi yang nyata, di titik itulah karya menemukan nilainya sendiri, tanpa perlu banyak sorotan.
“Kepuasan paling jujur datang dari tahu bahwa apa yang dikerjakan benar-benar berguna bagi orang lain. Jadi, bukan soal siapa yang melihat, tapi siapa yang merasakan manfaatnya,” tukas Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta. (RN)














































